Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Seni Wayang Potehi Berusaha Meraup Perhatian Generasi Digital

📅 Kamis, 02 Mei 2024, 13:11 WIB | Oleh:
Seni Wayang Potehi Berusaha Meraup Perhatian Generasi Digital Doc: Istimewa
Ket. Pengrajin Wayang Potehi di Museum Potehi Gudo, Jombang

JOMBANG - Satu sore di bulan Mei 2018, tim Ein Institute tiba di Museum Potehi Gudo-Jombang. Nampak seorang pria paruh baya tengah asyik memainkan pisau ukirnya, sedangkan tangan satunya memegang bongkahan kayu. Ia salah seorang perajin wayang potehi asal kota ukir Jepara yang telah lama bekerja bersama Toni Harsono pemilik museum. Yang sedang ia kerjakan di beranda museum adalah bagian kepala satu karakter wayang potehi.

Dikutip dari EIN Institute, Toni Harsono adalah seorang pelestari budaya yang sekaligus juga seorang dalang wayang potehi. Kecintaan Toni pada potehi telah terpupuk sejak kecil. Ayah dan kakeknya berprofesi sebagai dalang wayang potehi, semasa kesenian ini berjaya di era sebelum Orde Baru. Ayah Toni melarang anaknya mengikuti jejaknya, beliau khawatir masa depan Toni akan suram karena profesi dalang tidak menjanjikan pendapatan yang stabil.

Namun Toni tak bisa membohongi isi hatinya. Ia tetap menekuni kesenian asal Tiongkok ini. Bahkan ia menjadi pelaku kesenian yang idealis.

Ia berniat mengembalikan karakter-karakter wayang potehi ke wujud yang otentik. Keseriusannya diwujudkan dengan belajar langsung dari maestro wayang potehi waktu itu, Thio Tiong Gie di Semarang.

Upayanya membuahkan hasil. Saat ini kelompok wayang potehi Gudo boleh dibilang merupakan yang paling menonjol di antara kelompok-kelompok serupa di Indonesia. Bahkan dalam festival wayang potehi di Taiwan, wayang-wayang yang dibawanya mendapat pujian sebagai yang paling otentik di antara peserta lain.

Wayang potehi masuk ke Nusantara pada sekitar abad 16 mengikuti migrasi orang-orang Tionghoa. Dan dalam tempo ratusan tahun itu, wayang potehi menjadi sarana akulturasi antara budaya Tionghoa dan (terutama) Jawa. Terbukti saat ini, banyak dari pemain wayang potehi: dalang, pemusik, juga perajin beretnis Jawa. Pada pementasannya, walau cerita-cerita yang dibawakan kebanyakan masih cerita-cerita klasik Tiongkok, sudah menggunakan bahasa Indonesia, bahkan bahasa Jawa. Bahasa Hokkian hanya digunakan untuk pembukaan.

Sekalipun demikian, kesenian wayang potehi seolah jalan di tempat. Pementasan yang hanya sesekali; biasanya saat Tahun Baru Imlek atau saat ada pesanan dari individu atau perusahaan. Masyarakat, bahkan masyarakat Tionghoa sendiri nampak kurang antusias: membuat wayang potehi 'timbul-tenggelam'. Muncul di permukaan saat ada perayaan, tapi lantas menghilang lagi. Untuk itulah Kopi Semawis (Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata) mengangkat wayang potehi sebagai tema Pasar Imlek Semawis (PIS) tahun ini.

Ketua Kopi Semawis yang juga Pengurus Perkumpulan Rasa Dharma (Boen Hian Tong), Harjanto Halim, mengatakan wayang potehi adalah bentuk akulturasi yang sangat mapan. Sehingga mempunyai potensi untuk menyebarkan nilai-nilai keberagaman - sebuah isu penting dalam kehidupan berbangsa di Indonesia. Selain pameran, PIS tahun ini juga menggelar diskusi tentang wayang potehi.

Diskusi yang diadakan pada Januari 2020 yang lalu, menghadirkan lima narasumber. Mereka adalah Anton Suparno, M.H. (Doktor Antropologi, peneliti wayang potehi); Toni Harsono (pemain wayang potehi generasi ke-3); Udaya Halim (pelestari dan pengamat budaya Tionghoa, serta pemilik Museum Benteng Heritage); Sukirno (budayawan dan pegiat kesenian); Kuat Prihatin (Direktorat Jenderal Kebudayaan); serta moderator Dwi Woro Retno Mastuti.

Anton Suparno mendasarkan pada penelitiannya, mengatakan bahwa sekalipun wayang potehi telah relatif banyak dipentaskan di berbagai tempat dibanding pada masa Orde Baru, namun nampak animo masyarakat masih belum terlalu besar. Bahkan kalangan Tionghoa, yang nota bene merupakan 'pewaris utama' kesenian ini, belum banyak menunjukkan minat. Terutama dari kalangan generasi muda.

Semasa pemerintahan Soeharto, terbit Inpres No. 14/1967 tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Tiongkok, yang melarang segala bentuk ekspresi kebudayaan Tionghoa. Wayang potehi termasuk yang terimbas kebijakan ini. Sehingga antara tahun 1970-1990-an kesenian ini 'tiarap'. Orang mungkin hanya mendengar namanya, tapi tak pernah melihat wujudnya.

Pasca Reformasi 1998, keran kebebasan dibuka. Pentas wayang potehi mulai muncul di mana-mana. Namun minat masyarakat tetap minim. Zaman telah berubah, situasi dan selera masyarakat juga ikut berubah. Wayang potehi selama mati suri pada masa Orde Baru, tidak sempat merespon perkembangan yang terjadi di masyarakat. Sehingga sekalipun sudah tak ada lagi larangan menampilkan budaya Tionghoa, namun wayang potehi hanya bisa menampilkan langgam cerita klasik, yang kurang disukai generasi digital.

Udaya Halim mengatakan ada empat hal yang harus dipikirkan oleh para pelaku wayang potehi agar bisa lebih diterima masyarakat masa kini, yaitu:

1. Bahasa, bahasa aslinya adalah bahasa Hokkian, dan pengucapan bahasa Hokkian oleh orang Tionghoa peranakan sekalipun, punya nuansa berbeda di setiap wilayah di Indonesia. Walau saat ini hanya digunakan untuk pembukaan, namun tetap saja jika menjadikan salah tangkap oleh pendengar, maka pesannya bisa beda.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

DPR Merespons Berbagai Isu Terkini

45 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
DPR Merespons Berbagai Isu ...
Luar Negeri
Presiden Marcos Jr Desak Pa...
Luar Negeri
Thaksin Shinawatra Diberi P...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.