Wayang Kulit Kedu Bisa Dipakai untuk Pendidikan Ekologi, Bagaimana Ceritanya?
📅 Jumat, 26 Apr 2024, 12:03 WIB | Oleh: Tim PenulisSalah satu karakteristik unik dari pertunjukan wayang kulit Kedu adalah kemunculan karakter dan lakon yang terinspirasi langsung dari kehidupan agraris, seperti misalnya lakon Prabu Putut Jantaka. Lakon ini menggambarkan perjuangan masyarakat melawan hama yang menyerang lahan pertanian, sebuah tema yang sangat relevan dengan realitas kehidupan masyarakat agraris. Cerita ini mengandung pesan edukatif tentang pengelolaan lahan dan penentuan siklus tanam untuk menghindari atau mengurangi serangan hama yang dapat merusak hasil panen.
Cerita utama lainnya dalam wayang kulit Kedu adalah lakon Makukuhan yang menyajikan narasi yang kaya akan nilai-nilai pengelolaan lingkungan dan budidaya padi. Ini mencerminkan hubungan erat antara manusia dan alam dalam konteks budaya agraris.
Kisah ini berpusat pada Ki Ageng Makukuhan, atau Ki Ageng Kedu, dan istrinya, yang merupakan sosok penting dalam tradisi pertanian di wilayah Kedu. Menariknya, Ki Ageng Kedu dan istrinya dipercaya sebagai jelmaan Batara Wisnu, dewa tertinggi dalam kepercayaan masyarakat Jawa era Hindu-Buddha, dan Dewi Sri, dewi kesuburan dan padi. Dalam lakon tersebut, Ki Ageng Makukuhan dan istrinya memberikan edukasi tentang teknik dan nilai budaya dalam penanaman dan perawatan tata kelola pertanian kepada masyarakat.
Wayang kulit Kedu dan penanggulangan dampak perubahan iklim
Sebaiknya Anda baca juga:
Wayang kulit Kedu dengan akar tradisi budaya agrarisnya yang kental, menawarkan medium yang unik untuk pelestarian lingkungan dan edukasi tentang upaya meredam dan menanggulangi dampak perubahan iklim saat ini.
Melalui lakon-lakon yang menggambarkan interaksi antara manusia dan alam, wayang kulit Kedu tidak hanya mempertahankan relevansi budaya tetapi juga berfungsi sebagai sarana edukasi ekologis yang efektif.
Cerita-cerita dalam pertunjukan wayang kulit Kedu juga kaya akan pengetahuan tradisional tentang siklus tanam, pemuliaan benih padi dan tanaman pangan, pemberian pupuk alami, pengelolaan lahan, dan tata kelola irigasi. Ini menjadi sangat penting di tengah iklim yang berubah, ketika praktik pertanian berkelanjutan dan pemahaman tentang ekosistem menjadi kunci untuk menghadapi perubahan lingkungan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan kekuatan cerita tersebut, peran dan fungsi wayang kulit Kedu dapat berkembang menjadi lebih dari sekadar sarana ruwatan dan hiburan tradisional. Wayang kulit Kedu dapat menjadi medium penting untuk menyampaikan pesan tentang upaya meredam dan menanggulangi dampak perubahan iklim berdasarkan pengalaman budaya dan pengetahuan tradisional yang telah ada dan masih hidup di masyarakat.
Sayangnya, wayang kulit Kedu saat ini sedang berada di ambang kepunahan. Situasi ini membutuhkan peran pegiat seni bersama pemerintah daerah dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) dalam merangsang geliat wayang Kedu dengan tujuan pelestarian lingkungan.
Melalui narasi dan simbolisme yang kaya dengan relasi antara manusia dan alam, pertunjukan wayang kulit Kedu dapat memvisualisasikan konsep-konsep abstrak perubahan iklim menjadi cerita yang mudah dipahami oleh masyarakat luas. Lakon-lakon yang memperlihatkan interaksi antara manusia dengan alam, serta tantangan-tantangan yang dihadapi, dapat diinterpretasikan ulang untuk mencerminkan dampak perubahan iklim terhadap kehidupan sehari-hari seperti kerusakan ekosistem, kegagalan panen, anomali cuaca, dan semakin berkurangnya keanekaragaman hayati.
Artikel ini juga mendapatkan saran dan masukan dari Indra Fibiona, pamong budaya ahli sejarah dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Yogyakarta. Tim penulis mengucapkan terima kasih atas kontribusi pemikiran yang diberikan.![]()
Gregorius Andika Ariwibowo, Researcher in Research Center of Area Studies, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Arief Dwinanto, Peneliti pada Pusat Riset Masyarakat dan Budaya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!