Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Wayang Kulit Kedu Bisa Dipakai untuk Pendidikan Ekologi, Bagaimana Ceritanya?

📅 Jumat, 26 Apr 2024, 12:03 WIB | Oleh: Tim Penulis
Wayang Kulit Kedu Bisa Dipakai untuk Pendidikan Ekologi, Bagaimana Ceritanya? Doc: The Conversation/YouTube KGPS Channel
Ket. Tangkapan layar - Pertunjukan Wayang kulit Kedu oleh Ki Legowo yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Jawa Tengah.

Gregorius Andika Ariwibowo, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Arief Dwinanto

Dalam publikasinya tahun 2022, International Council on Monuments and Sites (ICOMOS), asosiasi profesional untuk konservasi tempat warisan budaya di seluruh dunia, menyatakan bahwa tradisi budaya dan pengetahuan lokal berpengaruh penting dalam upaya meredam dan menanggulangi dampak perubahan iklim.

Di satu sisi, perubahan iklim dapat mengancam kelestarian tradisi dan warisan budaya melalui berbagai kerusakan fisik dan tekanan pada praktik budaya. Namun, di sisi lain, tradisi dan warisan budaya juga menjadi kunci untuk mengatasi perubahan iklim.

Pengetahuan ekologi tradisional yang hidup dalam masyarakat pada umumnya diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pengetahuan ekologi tradisional ini mencakup pengetahuan mengenai pengelolaan sumber daya alam, metode pertanian, pengelolaan hutan, dan penggunaan sumber daya air.

Pengetahuan ekologi tradisional sebagai bagian dari objek warisan budaya dapat mendukung upaya-upaya meredam dan menanggulangi dampak perubahan iklim. Sebab, menurut UNESCO, perlu ada sinergi dan kolaborasi antara pengetahuan lokal dengan pengetahuan modern dalam upaya-upaya tersebut. Seperti contohnya, melalui wayang kulit Kedu.

Mengenal wayang kulit Kedu

Sejak tahun 2003, UNESCO mengakui wayang kulit sebagai warisan budaya tak benda dan budaya lisan. Wayang kulit Kedu merupakan salah satu gagrak (gaya) dalam wayang kulit purwa.

Wayang kulit purwa merupakan bentuk awal dari wayang kulit yang kemudian berkembang menjadi berbagai gagrak atau gaya, kata "purwa" memiliki makna yakni "awal".

Wayang kulit Kedu berkembang di bekas wilayah Karesidenan Kedu yang meliputi Temanggung, Wonosobo, Magelang, Kebumen dan Purworejo. Gagrak wayang ini lebih dikenal sebagai wayang yang digunakan untuk pertunjukan ruwatan bersih desa dan diperkirakan telah memiliki sejarah panjang sejak masa Kerajaan Mataram Islam.

Pengetahuan agraris dan ekologis dalam wayang kulit Kedu

Dibandingkan gagrak wayang kulit purwa lainnya di Jawa, wayang kulit Kedu menonjol dengan unsur lingkungan budaya agraris serta pengetahuan ekologis.

Asal-usul karakter dan lakon dalam wayang kulit Kedu berasal dari kekayaan tradisi budaya agraris yang telah lama hidup dan berkembang di sekitar wilayah eks Karesidenan Kedu.

Wayang kulit Kedu tidak sekadar menyadur cerita dari epos Mahabharata (kisah keluarga Bharata karangan Vyasa) dan Ramayana (epos tentang kepahlawanan Ramawijaya karangan Walmiki) yang telah berkembang di Jawa sejak masa Hindu-Buddha. Wayang ini menampilkan juga karakter dan cerita-cerita rakyat yang erat kaitannya dengan kehidupan agraris masyarakat di wilayah Kedu. Beberapa di antaranya seperti pengusiran wabah atau pagebluk, permohonan keselamatan untuk memulai musim tanam, dan pembangunan sarana irigasi. Ada juga cerita yang terkait upaya pemuliaan tanah dan tanaman, perawatan hewan ternak, pengusiran hama penganggu, perhitungan pranata mangsa, serta doa dan upacara untuk keberkahan panen.

Cerita-cerita ini tidak hanya mencerminkan kekayaan budaya lokal masyarakat Kedu, tetapi juga menegaskan peran penting wayang kulit Kedu dalam melestarikan dan komunikasi pengetahuan, nilai, dan praktik tata kelola ekologi yang berkelanjutan kepada generasi berikutnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Luar Negeri
Korsel Usulkan Dialog Milit...
Megapolitan
DKI Jakarta Benahi Kabel Se...

Arema FC Mengikuti Langkah PSIM, Memecat Pelatih

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Arema FC Mengikuti Langkah ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.