Sejarah Negara Suriname, Masyarakat Majemuk yang Tidak Diinginkan
📅 Senin, 08 Apr 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoKalau bisa dipasok dari tempat yang lebih dekat, tentu akan lebih murah dan keuntungannya jauh lebih tinggi. Itulah sebabnya segitiga Transatlantik Barat menjadi sangat menarik, terutama karena kandungan gulanya.
Zeelander atau orang Provinsi Zeeland terletak di barat daya Belanda telah mengarahkan perhatian mereka pada sebidang wilayah di pantai utara Amerika selatan yang sebelumnya diduduki oleh Inggris. Mereka memperdebatkan pemukiman tersebut, yang hanya berupa benteng militer dan dikelilingi oleh beberapa lusin rumah, yang sekarang disebut Paramaribo.
Di pantai timur Amerika utara justru sebaliknya. Di sana terdapat pemukiman Belanda, sekarang berkembang menjadi hampir sebuah kota dan disebut New Amsterdam, yang disengketakan oleh Inggris. Perselisihan komersial dan militer diselesaikan dengan kesepakatan.
Pada 1667, Inggris menerima New Amsterdam dan menamainya New York. Sebagai imbalannya, Zeelander menerima Willoughbyland yang kemudian disebut Suriname. Benteng militer Willoughby, yang telah diperebutkan selama beberapa tahun, tentu saja diberi nama Fort Zeelandia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hal ini membuka prospek baru dan berpotensi menguntungkan bagi para pedagang kaya di Belanda yang berani bersaing dengan VOC yang wilayah kekuasaannya di Hindia Belanda dengan wilayah baru tersebut.
Motif Ekonomi
Kota Amsterdam, sebagian besar dijalankan oleh Lords on the Herengracht, bersama dengan WIC dan bangsawan kaya Zeeland Cornelis van Aerssen van Sommelsdijck. Mereka mendirikan BV dengan nama De Octroyeerde Sociëteit van Suriname atau Masyarakat yang Dipatenkan Suriname
Sebaiknya Anda baca juga:
Van Sommelsdijck ditunjuk sebagai CEO perusahaan tersebut, meskipun ia diangkat menjadi gubernur saat tiba di lokasi. Maka wilayah Suriname diciptakan sebagai inisiatif swasta yang seluruhnya didasarkan pada motif ekonomi dan komersial.
De Geoctroyeerde Sociëteit van Suriname hadir dalam dalam bentuk perusahaan. Hal ini bukanlah upaya negara Belanda untuk memperluas wilayahnya. Ini merupakan inisiatif dari tiga pemegang saham telah menghitung bahwa lebih murah mendirikan perkebunan di sini untuk menanam produk-produk yang sampai saat itu harus dibawa jauh-jauh dari Timur Jauh oleh VOC. Oleh karenanya dia membutuhkan pekerja untuk itu.
Gubernur Van Sommelsdijck mencoba membujuk pemukim dari Belanda untuk menetap di wilayah baru, namun sia-sia. Ia bahkan berusaha merekrut anak-anak yatim piatu dari pesantren untuk bekerja di perkebunan.
Tidak ada bedanya. Karena pada saat yang sama, perdagangan yang sangat menarik dan menguntungkan telah muncul di segitiga transatlantik antara Belanda, Afrika, dan Amerika dalam produk baru dengan nilai komersial yang sangat besar yaitu budak.
WIC kini telah memperoleh banyak pengalaman mengenai hal ini di wilayah mereka yang hilang di timur laut Brasil. WIC memerintah di sana dari 1630 hingga 1654. Kota-kota, bank, perusahaan, dan provinsi terpenting di Belanda saling berhadapan dengan investasi dan inisiatif untuk mendapatkan bagian maksimal dalam pengambilan keuntungan yang dapat dicapai dengan komoditas emas ini.
Saat itu masih merupakan Zaman Keemasan di negara perdagangan kapitalis terbesar di dunia. Maka berkapal-kapal budak diangkut melintasi lautan dari pantai barat Afrika untuk juga berakhir di perkebunan di sini.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!