Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Presiden Korsel Kecam 'Kartel' Dokter Ketika Aksi Mogok Berlanjut

📅 Senin, 01 Apr 2024, 15:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Presiden Korsel Kecam 'Kartel' Dokter Ketika Aksi Mogok Berlanjut Doc: AFP/Jung Yeon-je
Ket. Presiden Yoon Suk Yeol dalam pidato nasional yang disiarkan televisi mengatakan tambahan 2.000 penerimaan sekolah kedokteran tidak akan cukup untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat di daerah-daerah di luar Seoul pada 1 April 2024.

SEOUL - Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol mengecam "kartel" petugas medis yang menentang reformasi sektor. Ia mengatakan pemerintah tidak akan mundur dari rencana yang memicu pemogokan dokter selama sebulan.

Rumah sakit terpaksa membatalkan perawatan dan operasi penting sejak ribuan calon dokter berhenti bekerja pada 20 Februari untuk memprotes usulan reformasi pelatihan. Namun pemerintah tidak mengubah rencana, malah mengancam petugas medis yang mogok dengan tindakan hukum.

Seoul ingin meningkatkan penerimaan sekolah kedokteran sebanyak 2.000 mulai tahun depan. Hal ini penting untuk memerangi kekurangan dan merawat masyarakat yang menua dengan cepat. Dokter mengatakan hal itu akan mengikis kualitas layanan.

"Angka 2.000 bukanlah angka acak yang kami peroleh. Kami telah meninjau secara menyeluruh statistik dan penelitian yang relevan serta meninjau situasi medis saat ini dan masa depan," kata Yoon dalam pidato nasional yang disiarkan televisi.

Bahkan peningkatan ini tidak akan memenuhi permintaan yang terus meningkat di wilayah di luar ibu kota Seoul, katanya.

Ribuan dokter menghadapi penangguhan izin medis, namun Yoon mendesak mereka untuk kembali ke rumah sakit sebelum prosesnya selesai.

Pemerintahan Korea Selatan telah mencoba meningkatkan penerimaan sekolah kedokteran di masa lalu. Yoon mengatakan "kartel dokter telah diperkuat" oleh kegagalan sebelumnya.

"Kami tidak bisa mengulangi kesalahan yang sama lagi," tambahnya.

Jika komunitas dokter tidak menyukai rencana pemerintah, "mereka harus memberikan pemerintah cetak biru terpadu dengan alasan ilmiah yang jelas", katanya.

"Jika mereka memberikan alternatif yang lebih rasional dan masuk akal, kita bisa membicarakannya kapan saja."

Warga Korea Selatan akan memberikan suara minggu depan dalam pemilihan umum. Partai Yoon berusaha memenangkan kembali mayoritasnya di parlemen.

Masyarakat pada awalnya bersimpati dengan pemerintah atas aksi mogok dokter yang sedang berlangsung. Namun jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan bahwa sentimen telah berubah, hampir 60 persen masyarakat yang disurvei di Dong-A Ilbo pada hari Senin mengatakan bahwa pemerintah harus menyesuaikan skala dan waktu reformasi tersebut.

Partai oposisi, Partai Demokrat, mengecam Yoon karena "sibuk dengan angka 2.000" dan mendesaknya untuk menyesuaikan rencana reformasi "dengan mempertimbangkan situasi medis".

"Yoon dan pemerintah harus meninggalkan obsesi mereka terhadap penambahan 2.000 slot," kata anggota parlemen oposisi dari Partai Demokrat, Shin Hyun-young.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp84.400/...
Daerah
Bus Transjateng Akan Tambah...

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

54 menit yang lalu | Lili Lestari

Nasional
Wakil Menteri Imipas Silmy ...
Nasional
Grab Tegaskan Rumor Hengkan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.