Pengeditan untuk Hindari Penolakan dan Serangan Virus
📅 Senin, 01 Apr 2024, 06:25 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Courtesy Massachusetts General Hospital
Keberhasilan awal dalam transplantasi pertama ginjal babi ke manusia hidup yang dilakukan oleh perusahaan Qihan Biotech bersama dengan eGenesis di Cambridge, Massachusetts, yang memproduksi babi dilakukan dengan melakukan pengeditan gen. Dengan teknologi pengeditan genom CRISPR-Cas9 pertama dilakukan untuk menghindari penyerangan benda asing oleh tubuh.
Pengeditan kedua dilakukan untuk mencegah dari serangan virus. Sebanyak 59 perubahan genetik lainnya dilakukan untuk menonaktifkan virus yang tertanam dalam genom babi. Perubahan ini mengatasi risiko virus menjadi aktif ketika berada di dalam tubuh manusia.
"Sejauh ini, para peneliti belum melihat hal ini terjadi pada transplantasi manusia hidup, orang yang secara klinis sudah mati, atau primata non-manusia," kata Luhan Yang, kepala eksekutif Qihan Biotech di Hangzhou, Tiongkok, yang juga merupakan pendiri perusahaan bioteknologi yang memproduksi babi, eGenesis di Kota Cambridge, Negara Bagian Massachusetts, dikutip dari laman nature.com.
Dalam beberapa percobaan laboratorium menunjukkan bahwa virus yang ada pada organ babi dapat ditularkan ke sel manusia dan ke tikus dengan sistem kekebalan yang lemah. Pada kasus jantung babi hasil rekayasa genetika pertama yang berhasil ditransplantasikan ke manusia hidup ternyata telah tercemar dengan virus laten, yang mungkin berkontribusi pada kegagalan organ tersebut.
"Kekhawatiran utama FDA sebelum menyetujui operasi tersebut adalah risiko patogen babi dapat menginfeksi penerimanya," kata Tatsuo Kawai, salah satu ahli bedah transplantasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
eGenesis menguji babi-babinya secara teratur untuk mencari patogen termasuk sitomegalovirus babi, yang dapat bertahan dengan tenang di inang hewan tersebut, kata Wenning Qin, seorang peneliti dan ahli biologi molekuler di eGenesis.
Sebelum prosedur dilakukan, para peneliti mengumpulkan dan membekukan sampel darah dari Slayman, anggota keluarganya, dan ahli bedahnya. Jika Slayman mengalami infeksi, peneliti dapat menguji sampel darah tersebut untuk menentukan apakah sampel tersebut adalah sumber patogen, kata Kawai.
Slayman akan terus dites secara teratur untuk mengetahui patogennya, dan jika dia mengalami gejala, anggota keluarga dan pengasuhnya juga akan dites. Tindakan pencegahan ini penting karena babi yang sehat sangat berbeda dengan babi yang sistem imunnya lemah, kata Yang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meskipun tidak ada virus, bakteri atau jamur yang terdeteksi pada babi sebelum transplantasi, mereka masih bisa ada dan tumbuh pada orang dengan sistem imun yang lemah, kata dia.
Kawai mengatakan ginjal menyaring zat beracun dari tubuh, menghasilkan urine dan membantu mengontrol tekanan darah. "Setelah ahli bedah memulihkan aliran darah ke organ babi yang ditransplantasikan, organ tersebut langsung berubah menjadi merah muda dan mulai menghasilkan urine," kata dia.
Tanda tersebut kataKawai menandakan transplantasi telah berhasil. Indikator lain dari kesehatan ginjal adalah kadar senyawa kimia yang dikenal sebagai kreatinin dalam darah. Kadar yang tinggi menunjukkan bahwa ginjal tidak menjalankan peran penyaringan limbahnya dengan baik.
Kawai mengatakan bahwa sebelum transplantasi, tingkat kreatinin Slayman adalah 10 miligram per desiliter, namun turun menjadi 2,4 pada hari keempat. Ia berharap bisa turun menjadi 1,5 yang berada di kisaran normal.
"Sepertinya sejauh ini ginjal tersebut berfungsi sebagaimana mestinya," kata Muhammad Mohiuddin, seorang ahli bedah dan peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Maryland di Baltimore, yang memimpin transplantasi jantung babi pertama pada manusia yang masih hidup. hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!