Apakah Memiliki Anak Membuat Kita Lebih Bahagia? Ini Kata Penelitian
📅 Jumat, 22 Mar 2024, 15:00 WIB | Oleh: Tim PenulisPerempuan heteroseksual juga mengakui lebih banyak merasakan ketidakbahagiaan ketika mereka menjadi orang tua dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini mungkin karena beban pengasuhan cenderung dibebankan secara tidak proporsional pada perempuan.
Namun, jika memiliki dukungan keluarga dan lingkungan sosial yang baik , pendamping yang aktif dan sama-sama terlibat, dan tinggal di daerah yang memiliki kebijakan yang mendukung keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga, semua itu bisa mengimbangi tekanan dan beban pengasuhan anak.
Hal ini mungkin menjelaskan mengapa perempuan di Norwegia tidak melaporkan adanya kehilangan kebahagiaan saat mereka memiliki anak, karena Norwegia memiliki banyak kebijakan ramah keluarga yang memungkinkan kedua orang tua untuk membesarkan anak dan berkarier.
Mengasuh anak bisa jadi hal yang sulit, tetapi bukan berarti tidak dapat menghasilkan kebahagiaan dan kegembiraan serta memberika makna yang lebih besar dalam hidup. Pengalaman mengasuh anak bahkan dapat mengarah pada bentuk kesejahteraan yang mendalam yang disebut kesejahteraan eudaimonic. Ini adalah perasaan bahwa kamu telah menjalani kehidupan yang layak untuk dijalani, yang berbeda dengan kebahagiaan jangka pendek.
Sebaiknya Anda baca juga:
Baik laki-laki maupun perempuan dapat mengalami kesejahteraan eudaimonik yang positif ketika mereka menjadi orang tua. Namun, bagi perempuan, peningkatan kesejahteraan eudaimonik yang mereka alami juga bergantung pada seberapa seimbang tugas pengasuhan anak dengan pasangan mereka.
Menghadapi penyesalan
Hal utama lainnya yang kerap dikhawatirkan adalah apakah keputusan untuk tidak memiliki anak akan berujung pada penyesalan.
Satu hal yang pasti, penelitian terhadap orang dewasa yang tidak memiliki anak menunjukkan mayoritas dari mereka melaporkan kepuasan hidup yang tinggi dan lebih tahan terhadap kesehatan mental yang buruk.
Tampaknya kunci terbesar untuk merasa bahagia dengan keputusanmu untuk memiliki atau tidak memiliki anak tergantung pada apakah kamu merasa memegang kendali atas keputusan tersebut. Ketika kita merasa telah memilih jalan kita, kita cenderung menerima keputusan yang kita ambil dan menjadi lebih bahagia karenanya.
Namun, bagaimana jika kamu tidak punya pilihan? Misalnya, kamu ingin punya anak tidak dapat memilikinya. Dapatkah kamu merasa bahagia? Penelitian kami menunjukkan bahwa jawabannya adalah ya.
Kami menyelidiki dampak tidak memiliki anak pada 161 perempuan di Inggris yang ingin memiliki anak namun tidak bisa karena berbagai alasan, seperti tidak bisa menemukan pasangan atau mengalami masalah kesuburan. Para partisipan berusia antara 25 dan 75 tahun.
Kami menemukan bahwa rata-rata kesejahteraan para partisipan tidak berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Sebanyak 12% mengaku merasa merana (artinya hidup mereka terasa tanpa tujuan), 24% berkembang secara psikologis, yang berarti mereka melaporkan tingkat kesehatan mental yang paling tinggi. Sisanya mengalami tingkat kesejahteraan yang biasa saja.
Menariknya, bagi beberapa orang, perjuangan untuk memiliki anak menghasilkan pertumbuhan pascatrauma. Hal ini mengacu pada perubahan psikologis positif yang terjadi setelah peristiwa traumatis. Perempuan dengan tingkat kesejahteraan tertinggi mengatakan bahwa mereka jadi bisa fokus pada kemungkinan-kemungkinan baru dalam hidup mereka selain menjadi orang tua. Ini membantu mereka meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!