Perencanaan Pangan ke Depan Harus Komprehensif
📅 Rabu, 20 Mar 2024, 00:59 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ANTARA/SENO
JAKARTA - Pemerintah diminta untuk membuat strategi perencanaan dan pengembangan pangan ke depan yang lebih komprehensif. Hal itu penting untuk mengantisipasi krisis pangan global yang mengakibatkan lonjakan harga bahan makannan.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, YB Suhartoko, mengatakan kebergantungan terhadap pangan tidak saja pada makanan pokok seperti beras, namun juga komoditas pangan sebagai input industri pengolahan hasil pangan.
Adanya kecenderungan kenaikan impor beras, dalam 10 tahun terakhir sejak 2013 sudah meningkat delapan miliar dollar Amerika Serikat (AS) lebih. Di sisi lain, produksi dan areal pertanian dan usaha pertanian malah menyusut karena alih fungsi lahan.
Kebergantungan pangan sebagai input juga sangat mengkhawatirkan, khususnya komoditas gandum dan bawang putih yang impor 100 persen. Begitu pula dengan kedelai 97 persen, gula 70 persen, dan daging sapi 50 persen masih impor.
Menurut Suhartoko, inti dari perencanaan pangan yang terutama adalah pemetaan berdasarkan potensi tanaman yang bisa dikembangkan pada setiap daerah, untuk mengembalikan budaya makanan pokok ke komoditas selain beras.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, strategi industrialisasi pengolahan hasil pangan dan konsumsi harus bergeser kepada bahan baku yang bisa dihasilkan secara domestik. Hal yang tidak kalah penting adalah ketahanan pangan harus terealisasi sebagai perwujudan kemandirian pangan.
Problem Mendasar
Dalam kesempatan berbeda, Guru Besar Ekonomi Pertanian dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Dwijono Hadi Darwanto, mengatakan krisis pangan global telah menjadi perhatian serius bagi banyak negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan kekayaan alam yang melimpah, Indonesia seharusnya mampu mandiri dalam memproduksi pangan untuk memenuhi kebutuhan domestik. Namun, kenyataannya adalah Indonesia masih mengimpor sejumlah besar komoditas pangan, terutama gandum, kedelai, gula, dan bahkan beras.
"Hal ini membuat kita sangat rentan terhadap perubahan harga di pasar global, yang dapat berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Beras harga naik kan bingung semua. Petani happy, tapi masyarakat konsumen menjerit. Ini tanda bahwa ada problem mendasar," kata Dwijono.
Ia pun menekankan pentingnya meningkatkan produktivitas tidak saja di satu produk beras, tapi juga aneka bahan pangan lokal lainnya. Dengan demikian, pangan tidak hanya menjadi komoditas dagang, tapi juga sebuah rantai industri yang mandiri dari petani hingga hilirnya.
"Konsumsi pangan lokal tidak hanya mendukung ekonomi lokal, tetapi juga memiliki dampak positif pada lingkungan dan keberlanjutan. Perlu success story di satu produk pangan lokal. Langkah nyata saja, jangan wacana dan sosialisasi lagi," tandas Dwijono.
Dari Jawa Timur, ahli gizi dari Universitas Airlangga, Surabaya, Lailatul Muniroh, mengatakan masyarakat harus mencari sumber pangan yang lebih terjangkau untuk menghadapi ancaman krisis pangan global dan paceklik. Menurutnya, masih banyak bahan pangan lokal yang dapat dijadikan alternatif untuk memenuhi kebutuhan gizi ketika harga beras naik.
"Alternatif yang dimaksud adalah sumber karbohidrat kompleks yang memiliki ketahanan sumber energi lebih lama, juga dapat menjadi sumber serat yang baik untuk pencernaan, seperti singkong, ubi jalar, jagung, talas, kentang, beras merah, dan beras ketan," kata Lailatul.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!