Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Perencanaan Pangan ke Depan Harus Komprehensif

📅 Rabu, 20 Mar 2024, 00:59 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Perencanaan Pangan ke Depan Harus Komprehensif Doc: ANTARA/SENO
Ket. DISTRIBUSI PANGAN KE PULAU SAPUDI I Buruh angkut sedang membongkar muatan beras dari kapal di Pelabuhan Kalbut, Mangaran, Situbondo, menuju Pulau Sapudi Sumenep, Madura, Jawa Timur, Selasa (19/3). Kendati Pemerintah terus gencar menyalurkan bantuan beras, namun harga di masyarakat belum kunjung stabil karena adanya dugaan penyalagunaan bantuan dengan mengganti kemasan karung Bulog dengan merk beras premium.

JAKARTA - Pemerintah diminta untuk membuat strategi perencanaan dan pengembangan pangan ke depan yang lebih komprehensif. Hal itu penting untuk mengantisipasi krisis pangan global yang mengakibatkan lonjakan harga bahan makannan.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, YB Suhartoko, mengatakan kebergantungan terhadap pangan tidak saja pada makanan pokok seperti beras, namun juga komoditas pangan sebagai input industri pengolahan hasil pangan.

Adanya kecenderungan kenaikan impor beras, dalam 10 tahun terakhir sejak 2013 sudah meningkat delapan miliar dollar Amerika Serikat (AS) lebih. Di sisi lain, produksi dan areal pertanian dan usaha pertanian malah menyusut karena alih fungsi lahan.

Kebergantungan pangan sebagai input juga sangat mengkhawatirkan, khususnya komoditas gandum dan bawang putih yang impor 100 persen. Begitu pula dengan kedelai 97 persen, gula 70 persen, dan daging sapi 50 persen masih impor.

Menurut Suhartoko, inti dari perencanaan pangan yang terutama adalah pemetaan berdasarkan potensi tanaman yang bisa dikembangkan pada setiap daerah, untuk mengembalikan budaya makanan pokok ke komoditas selain beras.

Selain itu, strategi industrialisasi pengolahan hasil pangan dan konsumsi harus bergeser kepada bahan baku yang bisa dihasilkan secara domestik. Hal yang tidak kalah penting adalah ketahanan pangan harus terealisasi sebagai perwujudan kemandirian pangan.

Problem Mendasar

Dalam kesempatan berbeda, Guru Besar Ekonomi Pertanian dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Dwijono Hadi Darwanto, mengatakan krisis pangan global telah menjadi perhatian serius bagi banyak negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Dengan kekayaan alam yang melimpah, Indonesia seharusnya mampu mandiri dalam memproduksi pangan untuk memenuhi kebutuhan domestik. Namun, kenyataannya adalah Indonesia masih mengimpor sejumlah besar komoditas pangan, terutama gandum, kedelai, gula, dan bahkan beras.

"Hal ini membuat kita sangat rentan terhadap perubahan harga di pasar global, yang dapat berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Beras harga naik kan bingung semua. Petani happy, tapi masyarakat konsumen menjerit. Ini tanda bahwa ada problem mendasar," kata Dwijono.

Ia pun menekankan pentingnya meningkatkan produktivitas tidak saja di satu produk beras, tapi juga aneka bahan pangan lokal lainnya. Dengan demikian, pangan tidak hanya menjadi komoditas dagang, tapi juga sebuah rantai industri yang mandiri dari petani hingga hilirnya.

"Konsumsi pangan lokal tidak hanya mendukung ekonomi lokal, tetapi juga memiliki dampak positif pada lingkungan dan keberlanjutan. Perlu success story di satu produk pangan lokal. Langkah nyata saja, jangan wacana dan sosialisasi lagi," tandas Dwijono.

Dari Jawa Timur, ahli gizi dari Universitas Airlangga, Surabaya, Lailatul Muniroh, mengatakan masyarakat harus mencari sumber pangan yang lebih terjangkau untuk menghadapi ancaman krisis pangan global dan paceklik. Menurutnya, masih banyak bahan pangan lokal yang dapat dijadikan alternatif untuk memenuhi kebutuhan gizi ketika harga beras naik.

"Alternatif yang dimaksud adalah sumber karbohidrat kompleks yang memiliki ketahanan sumber energi lebih lama, juga dapat menjadi sumber serat yang baik untuk pencernaan, seperti singkong, ubi jalar, jagung, talas, kentang, beras merah, dan beras ketan," kata Lailatul.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Trump Teken Percepatan Tekn...
Megapolitan
Kebudayaan Harus Menjadi Id...
Megapolitan
Puncak HUT Jakarta Dipusatk...
Nasional
Stimulus Harus Diikuti Refo...

Wabah Ebola Kongo Tembus 1.000 Kasus

53 menit yang lalu | Lukman

Luar Negeri
Wabah Ebola Kongo Tembus 1....
Luar Negeri
Yen Jepang Dekati Titik Ter...

Remake 'The Blair Witch Project' Dijadwalkan Rilis Tahun 2027

1.5 jam yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Rona
Remake 'The Blair Witch Pro...

Jepang akan Menaikan Biaya Visa Lima Kali Lipat Mulai 1 Juli

1.5 jam yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Jepang akan Menaikan Biaya ...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.