Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kemampuan Pemerintah Membayar Utang Semakin Melemah

📅 Senin, 04 Mar 2024, 00:02 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Kemampuan Pemerintah Membayar Utang Semakin Melemah Doc: Sumber: Kemenkeu – Litbang KJ/and - KJ/ONES

JAKARTA - Posisi utang pemerintah pada akhir Januari 2024 kembali naik mencapai 8.253,09 triliun rupiah. Berdasarkan dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Kita, secara nominal, posisi utang pemerintah tersebut bertambah 108,4 triliun rupiah atau meningkat 1,33 persen dibandingkan dengan posisi utang pada akhir Desember 2023 yang tercatat sebesar 8.144,69 triliun rupiah.

Dengan demikian, maka rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 38,75 persen.

Utang pemerintah didominasi oleh instrumen Surat Berharga Negara (SBN) yang kontribusinya 88,19 persen. Hingga akhir Januari 2024, penerbitan SBN tercatat sebesar 7.278,03 triliun rupiah. Penerbitan itu terbagi menjadi SBN domestik dan SBN valuta asing (valas).

SBN Domestik tercatat 5.873,38 triliun rupiah, sedangkan SBN Valas tercatat sebesar 1.404,65 triliun rupiah.

Meningkat Tajam

Peneliti Ekonomi Celios, Nailul Huda, yang diminta tanggapannya, mengatakan utang itu perlu disikapi sangat serius karena sudah meningkat cukup tajam dengan indikator yang sudah lampu kuning. Debt to service ratio (DSR) Indonesia yang rentan meningkat akibat pelemahan kinerja ekspor.

"Artinya, kemampuan pembayaran utang pemerintah bisa jadi melemah ke depan," ungkap Huda.

Pembayaran cicilan dan pokok utang juga semakin membebani keuangan negara karena kemampuan penerimaan juga relatif stagnan, sehingga beban bagi APBN semakin besar.

Sebaiknya Anda baca juga:

Apalagi, yield (imbal hasil) utang tersebut semakin tinggi dan investor sekarang lebih tertarik ke tenor jangka pendek. "Artinya, beban pemerintah dari SUN akan semakin meningkat dan pembayaran akan semakin singkat," terang Huda.

Secara terpisah, pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga, Surabaya, Imron Mawardi, mengatakan jika negara terus menggunakan utang untuk membiayai pengeluaran nasional maka dapat menyebabkan akumulasi utang dalam jangka panjang.

"Seharusnya negara terlebih dahulu memastikan kemampuan bayar utang sebelum menambah jumlah utang luar negerinya," kata Imron.

Sebelum memutuskan mencari pinjaman, pemerintah seharusnya memastikan bahwa negara memiliki kemampuan untuk melunasi di masa depan. Jumlah utang yang terlalu besar akan membebani kemampuan negara membayar bunga pinjaman setiap tahunnya dan membayar pokok pinjaman saat jatuh tempo.

Sebelumnya, Imron mengatakan penarikan utang baru secara besar-besaran memiliki risiko mengingat arus portofolio asing yang masuk melalui obligasi yang besar sehingga berpotensi menimbulkan gejolak terhadap stabilitas rupiah. Untuk itu, pemerintah harus memperkuat konsep ekonomi berdikari dengan menjaga stabilitas keuangan agar tidak tergantung pada portofolio asing.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Cukup Bagus Hasil Penanaman...
Nasional
Kepala BGN Baru Diminta Fok...
Nasional
Pengukuhan dan Pengambilan ...
Megapolitan
Upaya Pembersihan Sampah di...
Olahraga
Langkah Fajar/Fikri Berakhi...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.