2 Misinformasi yang Perlu Diluruskan Terkait Nyamuk Wolbachia Pengendali DBD
📅 Selasa, 30 Jan 2024, 10:46 WIB | Oleh: Tim PenulisSetelah melalui kajian yang intensif, tim berkesimpulan bahwa penerapan teknologi nyamuk ber-Wolbachia untuk menekan penyebaran virus dengue itu aman. Dalam jangka waktu 30 tahun ke depan, peluang peningkatan bahaya akibat pelepasan nyamuk Ae. aegypti ber-Wolbachia dapat diabaikan.
Dengan demikian, keputusan Kementerian Kesehatan untuk memperluas penggunaan teknologi dalam proyek percontohan di lima kota itu memiliki dasar kajian yang kuat.
Proyek percontohan lebih luas tidak lagi untuk meneliti kemanjuran teknologi ini, tapi untuk menyempurnakan pedoman teknis pelaksanaan penerapan Wolbachia yang telah dikembangkan di Yogyakarta sekaligus menjadi program plus dari 3M untuk mengendalikan DBD di kota-kota tersebut.
Proyek percontohan ini diharapkan memiliki luaran berupa pedoman teknis yang telah diadaptasi dengan situasi yang ada di lima kota. Harapannya, teknologi ini dapat diterapkan untuk daerah-daerah endemis DBD lain di Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Keterlibatan masyarakat merupakan salah satu kunci keberhasilan penerapan teknologi ini. Di Yogyakarta, sekitar 54.800 "orang tua asuh" terlibat dalam pelepasan nyamuk ber-Wolbachia. Mereka menjaga ember berisi telur nyamuk agar bisa menetas dan menjadi dewasa di lingkungan selama kurang lebih 6 bulan. Sekitar 6.100 kader kesehatan terlibat untuk mengganti telur nyamuk ber-Wolbachia yang telah menetas di ember dengan telur nyamuk ber-Wolbachia yang baru.
Sampai akhir Desember lalu, proyek percontohan di empat kota berjalan lancar. Hanya di Jakarta Barat saja yang belum dilakukan penitipan ember untuk menetaskan telur nyamuk ber-Wolbachia di rumah-rumah warga.
Kita berharap masyarakat di lima kota terlibat sampai tuntas dalam proyek bersejarah untuk mengendalikan DBD dengan teknologi baru ini.![]()
Sebaiknya Anda baca juga:
Citra Indriani, Researcher, Center for Tropical Medicine, Universitas Gadjah Mada dan Muhammad Ali Mahrus, Media and Communication Officer, Pusat Kedokteran Tropis, Universitas Gadjah Mada
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!