Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

2 Misinformasi yang Perlu Diluruskan Terkait Nyamuk Wolbachia Pengendali DBD

📅 Selasa, 30 Jan 2024, 10:46 WIB | Oleh: Tim Penulis
2 Misinformasi yang Perlu Diluruskan Terkait Nyamuk Wolbachia Pengendali DBD Doc: The Conversation
Ket. Petugas menitipkan ember berisi telur nyamuk ber-Wolbachia di rumah ‘orang tua asuh’ nyamuk di Yogyakarta.

Citra Indriani, Universitas Gadjah Mada dan Muhammad Ali Mahrus, Universitas Gadjah Mada

Kementerian Kesehatan telah memperluas teknologi Wolbachia untuk mengendalikan penyakit demam berdarah dengue (DBD) di lima kota di luar Yogyakarta yakni Semarang, Jakarta Barat, Bandung, Kupang, dan Bontang sejak Mei 2023. Kelima kota dipilih karena memiliki angka insiden atau kesakitan DBD yang tinggi.

Sebelumnya, riset selama empat tahun dari peneliti World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta membuktikan teknologi nyamuk ber-Wolbachia efektif mengurangi kasus dengue hingga 77% dan menurunkan angka perawatan di rumah sakit akibat infeksi dengue hingga 86%. Hasil menggembirakan ini diperoleh setelah WMP Yogyakarta melalui empat fase penelitian selama 2011 - 2020.

Teknologi ini juga telah diterapkan sebagai metode pelengkap program pengendalian DBD di Kabupaten Sleman dan Bantul pada 2021 dan 2022 secara berurutan dengan hasil yang positif.

Masalahnya, ada beberapa misinformasi di media sosial yang berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap sains dan menghambat implementasi teknologi baru ini. Jika informasi keliru itu tidak diluruskan, masyarakat bisa kebingungan.

Misinformasi vs fakta ilmiah

Ada beberapa isu dan misinformasi yang tidak akurat terkait teknologi Wolbachia seperti (1) metode nyamuk ber-Wolbachia dianggap sebagai rekayasa genetika yang berpotensi bahaya ke depan, (2) isu seputar keamanan Wolbachia hingga tudingan (3) Wolbachia "menyebabkan" LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender).

Dua masalah pertama akan dijawab tulisan ini. Sedangkan satu isu terakhir tidak perlu dijelaskan panjang lebar karena jelas tidak ada bukti hubungan sebab-akibat antara teknologi Wolbachia dan LGBT.

Riset Wolbachia terkait pemanfaatan bakteri Wolbachia yang diinjeksikan ke tubuh nyamuk untuk pengendalian demam berdarah, bukan tentang gen atau perilaku manusia, apalagi LGBT. Kita perlu mengedepankan sikap ilmiah untuk menjelaskan suatu masalah dan mengambil kesimpulan.

Kita mulai dari masalah penyakit yang disebarkan oleh vektor bernama nyamuk Aedes aegypti. Secara global, DBD merupakan ancaman kesehatan yang serius. Sekitar 100 hingga 400 juta kasus dengue dilaporkan tiap tahun. Pada awal 2020, WHO menempatkan dengue sebagai satu dari 10 ancaman penyakit global akibat perubahan iklim.

Sekitar setengah dari 7,8 miliar populasi dunia berisiko terkena penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini.

Di Indonesia, data Kementerian Kesehatan per Oktober 2023 mencatat ada 57.884 kasus DBD dengan angka kematian mencapai 422 kasus. Setiap tahun angka kematian berfluktuasi, dan yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir terjadi pada 2016 yang mencatatkan 1.598 kematian.

Selain kesakitan dan kematian, penyakit ini juga menghabiskan biaya berobat Rp883 juta-3,7 miliar per bulan pada 2020. Kerugian ekonomi di masyarakat berkisar US$969 juta (Rp15,3 triliun).

Sejauh ini program intervensi untuk mengendalikan DBD masih bergantung pada cara konvensional. Cara itu meliputi mendorong perubahan perilaku masyarakat untuk mencegah gigitan nyamuk dan mengendalikan jumlah nyamuk (vektor) dengan memberantas tempat berkembangbiaknya dan membersihkan lingkungan dari genangan air (3M: menguras, menutup, mengubur) atau membunuh nyamuk dewasa dengan pengasapan (foging) menggunakan insektisida.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Pemprov Jawa Timur Catat Po...
Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.