Belajar dari Tumbangnya Sang Raksasa Boeing
📅 Senin, 29 Jan 2024, 00:02 WIB | Oleh: Tim PenulisSudah menjadi rahasia umum, sejak Boeing merger dengan McDonnall Douglas di tahun 1997 dan pimpinan perusahaan sudah diduduki oleh mereka yang fokus pada aspek profit finansial, terjadi gesekan dengan para teknisi pesawat profesional. Tingginya tuntutan pasar dan dinamika pasar modal tidak bisa dihindari untuk terjadinya semakin tajam friksi yang muncul dipermukaan. Friksi antara para teknisi profesional versus jajaran top manajemen. Inilah yang disebut sebagai akar masalah timbulnya hasil produksi pesawat terbang yang cacat pabrik sebagai hasil dari lemahnya Quality Control alias kendali mutu dan meningkatnya orientasi lebih pada profit finansial. Kesemua itu menghasilkan corporate culture yang baru, menghasilkan budaya perusahaan yang bergeser orientasinya lebih ke profit dari pada unsur keselamatan penerbangan.
Masyarakat luas berharap kecelakaan Lion Air dan Ethiopian Airlines menjadi pemicu untuk kembalinya nama besar Boeing sebagai pelopor utama simbol keselamatan penerbangan. Harapan menjadi sirna ketika di awal tahun 2024 Alaska Airlines mengalami insiden jendela copot saat baru terbang selama 20 menit. Kejadian ini memperparah penilaian orang terhadap kualitas pabrik pembuat pesawat terbang Boeing.
Kejadian yang sangat mempermalukan Boeing dan menjelaskan kepada masyarakat luas tentang betapa rendahnya standar kualitas produk pesawat terbang Boeing. Boeing memproduksi pesawat terbang yang jendelanya bisa copot saat terbang. Sulit dibantah insiden ini adalah hasil dari konflik panjang antara teknisi profesional versus jajaran leadership dalam proses produksi. Sulit dibantah insiden tersebut adalah hasil dari kecerobohan kerja pabrik.
Kesimpulan dari itu semua adalah bahwa kepemimpinan akan sangat menentukan hasil akhir dari sebuah kualitas proses produksi. Moral harus menjadi tolok ukur sisi kepemimpinan dalam sebuah organisasi termasuk pabrik pesawat terbang. Moral dalam kepemimpinan bahkan juga mempengaruhi kualitas sebuah bangsa. Ayah Kylian Mbappe, pemain bintang sepak bola Perancis asal Kamerun, Wilfried Mbappe mengatakan corrupt kill the dream of nation. Bangsa yang pimpinannya korup dan dengan enteng menyalahgunakan kekuasaan pasti mengantar negaranya menuju kehancuran. Tragedi Boeing kiranya dapat memberikan kepada kita semua pelajaran tentang aspek leadership dalam perannya membawa kesuksesan dalam setiap kegiatan apapun, sekaligus dalam waktu yang sama dapat pula membawa keruntuhan bagi perusahaan sebesar apapun dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!