Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Penggunaan Teknologi di Sektor Pangan Masih Minim

📅 Jumat, 26 Jan 2024, 00:05 WIB | Oleh:
Penggunaan Teknologi di Sektor Pangan Masih Minim Doc: ANTARA
Ket. Sektor Pangan

JAKARTA - Sektor pangan mampu menjadi produk unggulan Indonesia dalam pertumbuhan ekonomi digital di masa mendatang. Sektor pangan yang terdiri dari pertanian, peternakan dan perikanan memiliki potensi yang besar untuk pertumbuhan ekonomi digital. Untuk mewujudkannya harus didorong dengan pengenalan teknologi agar produksi pangan dapat berkelanjutan.

"Di sektor pangan ini tentu jadi kekuatan bangsa kita, tapi di saat yang sama, sektor ini belum maskimal untuk penggunaan teknologi. Pelakunya besar, potensinya besar, dan hampir sebagian besar kota punya potensi yang besar di sektor ini," ujar staf ahli hubungan antar-lembaga Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM), Riza Damanik, dalam diskusi daring dengan tema Transformasi UMKM Menggenggam Peluang Digital, di Jakarta, Kamis (25/1).

Seperti dikutip dari Antara, Riza mengatakan saat ini anak-anak muda yang aktif di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan hanya sebesar 19,2 persen. Angka tersebut dinilai timpang jika dibandingkan dengan sektor jasa dan perdagangan yang mencapai 56,46 persen.

Menurut Riza, yang membuat minat anak muda terhadap sektor pangan yang rendah adalah minimnya penggunaan teknologi sehingga hasil produksi dan pendapatannya cenderung sama dengan yang diperoleh pada generasi sebelumnya.

Kemenkop UKM pun mendorong anak-anak muda untuk mengembangkan platform digital seperti smart farming yang mampu menghubungkan petani kecil untuk mendapatkan pupuk hingga terhubung ke pasar modern. "Akhirnya ini nanti bisa memberikan bisnis pangan yang lebih baik prospeknya bagi anak-anak muda untuk berkarier di sana," kata Riza.

Selain mendorong penggunaan teknologi, Riza juga menyampaikan perlu adanya koperasi modern yang mewadahi para petani dan peternak. Petani dan peternak dapat fokus untuk menghasilkan produksi dan koperasi dapat menjadi jembatan untuk mencari akses pasar yang lebih luas.

"Itulah pentingnya koperasi, kita harapkan di koperasinya melek digital. Dengan harapan, anggota-anggotanya fokus produksi dan di saat yang sama koperasinya bisa mengakses pasar yang luas bahkan luar negeri dengan digitalisasi," ucap Riza.

Sementara itu, pengamat pertanian dari UPN Veteran Jawa Timur, Zainal Abidin, mengatakan, mengingat pada masa sebelumnya Indonesia dikenal sebagai negara agraris dan kerap mencapai swasembada pangan maka bila dikelola secara sungguh-sungguh sektor pangan akan bisa menjadi produk unggulan.

"Penguatan sektor pangan melalui pertanian menjadi harapan agar kita tidak semakin tertinggal dari negara-negara maju yang sudah semakin maju teknologinya dalam berbagai industri. Kita pernah swasembada, jadi pasti bisa. Maka ada sekarang harus melakukan impor, artinya ada yang perlu dibenahi," kata Zainal.

Teknologi Modern

Zainal mengatakan teknologi pertanian modern memang diperlukan untuk meningkatkan produksi apalagi dengan alih fungsi lahan seperti sekarang. Namun yang lebih penting dan harus dilakukan terlebih dahulu adalah membuat kebijakan-kebijakan yang pro petani, karena sebagai pelaku utama sektor pangan, mereka tentu harus mendapat keuntungan yang layak agar tetap mau menanam.

Dengan begitu, tambah dia, negara memiliki harapan bisa swasembada pangan. Salah satu kunci yaitu harus ada putaran uang di desa. Keluhan petani harus diperhatikan, kalau memang mereka rugi karena kalah dari harga impor maka tata kelola harus dibenahi.

"Harus seimbang antara melindungi konsumen dan produsen, keduanya harus sama-sama dijaga. Swasembada atau kemandirian pangan harus dicapai dahulu sebelum ekspor. Ini hanya bisa dicapai dengan mensuport petani, seperti negara-negara lain," tuturnya.

Tahun lalu, dalam sidang Agriculture and Food Security Information System (AFSIS) dengan Indonesia sebagai tuan rumahnya, ketua delegasi Indonesia, Anna Astrid mengatakan teknologi informasi dan komunikasi perlu diterapkan dalam pembangunan pertanian di Indonesia, baik pada kegiatan on-farm maupun off-farm.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Ekonomi
Nilai tukar rupiah terendah...

Operasi uji emisi kendaraan di Tangerang

30 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
Megapolitan
Pemkot Jakut Vaksinasi Ribu...
Ekonomi
Industri sepatu rumahan kua...

Pelaksanaan program penghapusan bentor

35 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Pelaksanaan program penghap...
Megapolitan
Pemprov DKI gelar program o...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.