Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pakar UB: Dunia Tidak Memiliki Kewenangan yang Cukup untuk Mencegah Deforestasi

📅 Sabtu, 20 Jan 2024, 16:40 WIB | Oleh:
Pakar UB: Dunia Tidak Memiliki Kewenangan yang Cukup untuk Mencegah Deforestasi Doc: Istimewa
Ket. Pengamat hubungan internasional dari Universitas Brawijaya, Malang, Adhi Cahya Fahadayna. Rezim lingkungan internasional tidak memiliki kewenangan yang cukup untuk memaksa semua negara patuh pada komitmen untuk melestarikan lingkungan dan hutan.

MALANG - Baru-baru ini, lembaga yang berfokus pada pemetaan ancaman kritis terhadap tanah dan perairan, serta mendukung masyarakat adat dan lokal, Earth InSight, dalam laporannya mengatakan bahwa deforestasi atau kerusakan hutan dunia tetap berlanjut, disebabkan oleh eksplorasi bahan bakar fosil, pertambangan, dan ekspansi industri.

Padahal lebih dari 140 negara pada KTT Iklim PBB tahun 2022 di Glasgow, telah menjalin komitmen untuk mengakhiri deforestasi mereka bertujuan untuk menghentikan dan membalikkan kehilangan dan degradasi hutan pada akhir dekade ini.

Dunia dinilai bergerak terlalu lambat memenuhi janji untuk mengakhiri deforestasi pada 2030. Berbagai laporan organisasi lingkungan hidup menyebutkan bahwa deforestasi tetap terjadi dan semakin parah .

Menanggapi hal tersebut, pengamat hubungan internasional dari Universitas Brawijaya, Malang, Adhi Cahya Fahadayna, mengatakan, komitmen negara-negara untuk melestarikan hutan adalah komitmen yang penting untuk menyalamatkan Bumi dari krisis lingkungan. Namun, kenyataanya komitmen ini tidak cukup mampu untuk di implementasikan kepada semua negara di Dunia.

"Implementasi tersebut terhambat karena dua hal. Pertama, adalah isu ketimpangan, negara maju adalah negara industrialis yang terkesan membebankan pelestarian lingkungan kepada negara berkembang, yang notabene memiliki hutan yang luas,' ujarnya saat dihubungi, Jumat (19/1).

"Sehingga negara berkembang tidak boleh melakukan pemanfaatan sumber daya alamnya dengan maksimal untuk menjadi negara industrialis. Ini akan membuat ada poverty trap (jebakan kemiskinan) yang menjangkit negara berkembang akibat pemaksaan untuk menyetop langkah industrialisasi demi menjaga lingkungan, tapi negara-negara maju tetap melakukan langkah-langkah industrialisasi" tambahnya.

Kedua, lanjut Adhi, rezim lingkungan internasional tidak memiliki kewenangan yang cukup untuk memaksa semua negara patuh pada komitmen untuk melestarikan lingkungan dan hutan.

"Rezim lingkungan ini terbukti tidak efektif, hanya memproduksi narasi-narasi tanpa disertai dengan kewenangan kelembagaan untuk mengikat komitmen negara-negara dalam rangka peningkatan komitmen dalam konservasi lingkungan dan hutan. Dua hal ini adalah pangkal persoalan mengapa banyak negara yang memiliki hutan tidak mau dan tidak mampu menjaga konservasi hutan dan lingkungan," ungkapnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Advertisement
Kapolri Listyo Sigit Hadiri Pameran Nasirun di Galeri Nasional, Apresiasi Seni Budaya Indonesia.

Kapolri Listyo Sigit Hadiri Pameran Nasirun di Galeri Nasional, Apresiasi Seni Budaya Indonesia.

13 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.