Pemimpin Toxic Bawa Pengaruh Buruk di Tempat Kerja, Bagaimana Menghadapinya?
📅 Selasa, 16 Jan 2024, 12:25 WIB | Oleh: Tim PenulisSebagai contoh, pemimpin toksik cenderung menuntut anak buahnya untuk mengikuti perintahnya tanpa memberikan ruang untuk bertanya atau menyanggah. Jika anak buah atau pengikutnya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendaknya, pemimpin toksik tidak segan mempermalukan mereka di depan umum.
Sifat narsis dan mengagungkan diri sendiri sering membutakan pemimpin toksik dari dampak buruk dari perbuatannya kepada anggota organisasi. Alih-alih berefleksi diri, seorang pemimpin yang toksik akan selalu menyalahkan kolega, anak buah, atasan atau sistem atas kegagalannya dalam memimpin organisasi tersebut.
Penelitian menunjukkan bahwa banyak dampak negatif dari sebuah kepemimpinan toksik, di antaranya adalah menurunnya semangat kerja anak buah, menimbulkan stres anggota organisasi, menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat dan penuh persaingan beracun, tingginya perputaran pegawai dan pengunduran diri, serta hancurnya organisasi.
Menghadapi pemimpin toksik
Sebaiknya Anda baca juga:
Berada di bawah kepemimpinan toksik menjadikan anak buah sering merasa tidak berdaya, terutama jika ada ketimpangan kuasa yang tinggi, misalnya perbedaan gender, usia, abilitas/disabilitas, dan kelas sosial. Sebab, pemimpin toksik cenderung bersifat menekan, sehingga anak buah sering tidak berani mengungkapkan pengalamannya kepada kolega mereka karena takut dianggap membantah atasan, menjadi bahan gosip, dan justru semakin menjadi bulan-bulanan pemimpin yang toksik.
Terlebih lagi, pemimpin toksik biasanya mengelilingi dirinya dengan anak buah yang memiliki karakter serupa atau mereka yang mendukung tindakan-tindakannya tanpa mempertanyakan sisi etis dari perbuatannya.
Oleh karena itu, jika kita berada dalam posisi tidak beruntung karena bekerja di bawah kepemimpinan toksik, para ahli menyarankan beberapa strategi untuk menjaga kewarasan kita:
Sebaiknya Anda baca juga:
Pertama, berikan batasan profesional yang jelas. Karena pemimpin yang toksik sering meminta kepatuhan tanpa batas, belajarlah berkata tidak jika diperintahkan untuk melakukan hal-hal yang tidak etis atau di luar nalar. Catatlah jika ada kejadian-kejadian yang tidak wajar dan selalu cek kebijakan organisasi terkait.
Kedua, fokuskan diri pada pengembangan diri dan profesional. Pemimpin toksik cenderung mengintimidasi mereka yang dianggap lemah atau kurang berketerampilan. Kompetensi dan keterampilan tinggi akan membuat kita menjadi percaya diri dan tidak mudah termanipulasi.
Ketiga, carilah dukungan yang luas. Pastikan kamu tidak berjuang sendirian dengan menghubungi rekan kerja, mentor, dan memperluas jaringan sosialmu. Jaringan yang luas akan memberikan dukungan penting, terutama jika kamu perlu merancang rencana keluar (exit plan) ketika hubungan dengan pemimpin toksik semakin sulit untuk diperbaiki.
Keempat, apabila memungkinkan, putuskan rantai perilaku toksik di lingkungan kerjamu. Carilah alternatif pekerjaan yang menawarkan lingkungan yang lebih sehat dan memberikan peluang bagi perkembangan pribadi dan profesional dirimu.
Terakhir, kehadiran pemimpin toksik harusnya menjadi evaluasi bagi organisasi maupun masyarakat di mana kita berada.
Sudahkah kita memberikan evaluasi terhadap standar kepemimpinan yang baik, yang selama ini selalu identik dengan maskulinitas dan senioritas yang menjadi ladang subur bagi munculnya pemimpin toksik? Sudahkah organisasi memberikan peluang terhadap keberagaman dan inklusivitas yang berdampak pada diterimanya berbagai macam gaya kepemimpinan?
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!