Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Dampak Makan Daging terhadap Perubahan Iklim Sebenarnya Tak Sebesar Itu

📅 Kamis, 11 Jan 2024, 14:33 WIB | Oleh: Tim Penulis

Banyak orang masih mempercayai bahwa mengurangi konsumsi daging menjadi satu kali seminggu akan membuat perbedaan yang signifikan terhadap lingkungan. Tetapi menurut sebuah studi baru-baru ini, bahkan jika orang Amerika menghilangkan semua protein hewani dari diet mereka, mereka hanya akan mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 2,6%. Menurut penelitian kami di University of California, Davis, jika praktik Senin Tanpa Daging diadopsi oleh semua orang Amerika, kita hanya akan melihat pengurangan emisi GRK sebesar 0,5%.

Selain itu, perubahan teknologi, genetik, dan manajemen yang telah terjadi di pertanian Amerika selama 70 tahun terakhir telah membuat produksi ternak lebih efisien dan menghasilkan lebih sedikit gas rumah kaca. Menurut basis data statistik FAO, total emisi gas rumah kaca langsung dari peternakan AS telah menurun 11,3% sejak 1961, sementara produksi daging ternak meningkat lebih dari dua kali lipat.

Permintaan atas daging meningkat di negara-negara berkembang, dengan tingginya permintaan dari kawasan Timur Tengah, Afrika Utara dan Asia Tenggara. Tetapi konsumsi daging per kapita di wilayah ini masih tertinggal apabila dibandingkan dengan negara maju. Pada tahun 2015, rata-rata konsumsi daging per kapita tahunan di negara-negara maju adalah 92 kilogram, bandingkan dengan 24 kilogram di Timur Tengah dan Afrika Utara dan 18 kilogram di Asia Tenggara.

Namun, mengingat pertumbuhan populasi yang diperkirakan akan tumbuh pesat di negara berkembang, tentu akan ada peluang bagi negara-negara seperti Amerika Serikat untuk membawa praktik pemeliharaan ternak berkelanjutan mereka ke negara berkembang.

Harga dari industri peternakan

Menghapus peternakan dari sektor pertanian Amerika Serikat akan menurunkan sedikit emisi gas rumah kaca, tetapi juga akan membuat lebih sulit untuk memenuhi kebutuhan gizi. Banyak kritik mengatakan jika petani hanya memelihara tanaman, mereka dapat menghasilkan lebih banyak makanan dan lebih banyak kalori per orang. Tetapi manusia juga membutuhkan banyak nutrisi mikro dan makro yang penting untuk kesehatan.

Sulit untuk membuat argumen yang meyakinkan bahwa Amerika Serikat memiliki defisit kalori, mengingat tingginya angka nasional obesitas orang dewasa dan anak. Selain itu, tidak semua bagian tanaman dapat dimakan atau diinginkan. Memelihara ternak adalah cara untuk menambah nilai gizi dan nilai ekonomis pada tanaman pertanian.

Sebagai salah satu contoh, energi pada tanaman yang dikonsumsi ternak paling sering terkandung dalam selulosa, yang tidak dapat dicerna manusia dan banyak mamalia lainnya. Tetapi sapi, domba, dan hewan lainnya dapat memecah selulosa dan melepaskan energi matahari yang terkandung dalam sumber daya yang luas ini. Menurut FAO, sebanyak 70% dari semua lahan pertanian secara global adalah tanah yang hanya dapat digunakan sebagai lahan penggembalaan untuk ternak.

Populasi dunia saat ini diproyeksikan mencapai 9,8 miliar orang pada tahun 2050. Memberi makan orang sebanyak ini akan menimbulkan tantangan besar. Daging lebih padat nutrisi per sajian daripada pilihan vegetarian, dan hewannya sebagian besar mengkonsumsi makanan yang tidak cocok untuk manusia. Memelihara ternak juga menawarkan penghasilan yang sangat dibutuhkan bagi petani skala kecil di negara berkembang. Di seluruh dunia, ternak menyediakan mata pencaharian bagi 1 miliar orang.

Perubahan iklim menuntut perhatian cepat, dan industri peternakan meninggalkan jejak lingkungan besar secara keseluruhan yang mempengaruhi udara, air, dan tanah. Hal ini, dikombinasikan dengan populasi dunia yang meningkat pesat, mendorong kita untuk terus bekerja demi efisiensi yang lebih besar dari industri peternakan. Saya percaya tempat untuk memulai semua itu adalah dengan fakta berbasis sains.The Conversation

Frank M. Mitloehner, Professor of Animal Science and Air Quality Extension Specialist, University of California, Davis

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Olahraga
Asian Games: Tim Voli Putra...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.