Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Investasi Padat Karya Semakin Terbatas

📅 Rabu, 10 Jan 2024, 00:17 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Investasi Padat Karya Semakin Terbatas Doc: Sumber: Bank Indonesia - KJ/ONES

» Peran pemerintah, lembaga pendidikan, dan industri perlu diperkuat untuk memastikan kesesuaian tenaga kerja dengan evolusi pasar.

» Kompetisi dan behaviour konsumen yang dinamis harus direspons dengan cepat oleh perusahaan teknologi digital dengan inovasi.

JAKARTA - Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada Desember 2023 menunjukkan indeks ketersediaan lapangan kerja mengalami sedikit penurunan 0,4 poin menjadi 112,7 pada Desember 2023.

Berdasarkan latar belakang pendidikan, penurunan optimisme terjadi secara drastis pada kelompok konsumen lulusan pascasarjana, yakni turun 30,6 poin dari bulan sebelumnya menjadi 107,3 pada Desember 2023, sedangkan pada kelompok lulusan sarjana mengalami penurunan 11,1 poin menjadi 120,9.

Sementara itu, pada kelompok lulusan SMA justru mengalami peningkatan 3 poin yakni menjadi 108,5, dan pada lulusan akademi meningkat 0,5 poin menjadi 113,9. Di sisi lain, konsumen juga memperkirakan ketersediaan lapangan kerja pada enam bulan mendatang mengalami penurunan.

Berdasarkan tingkat pendidikan, penurunan terutama terjadi pada kelompok responden dengan tingkat pendidikan pascasarjana yakni menurun 24,1 poin menjadi 120,3. Kemudian, pada tingkat sarjana menurun 11,1 menjadi 133,7, pada tingkat akademi tetap stabil di 132,5, dan tingkat SMA justru meningkat 0,3 poin menjadi 127,4.

Dari sisi usia, ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan kerja terindikasi menurun pada seluruh kelompok usia. Pada usia 20-30 tahun menurun 3,8 poin menjadi 120,3, lalu usia 31-40 tahun turun 0,3 poin, usia 41-50 tahun turun 0,1 poin menjadi 129,1, usia 51-60 turun 1,9 poin menjadi 128,1, dan terakhir pada usia lebih dari 60 tahun turun 4,2 poin menjadi 120,7.

Pengamat ekonomi dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, yang diminta pendapatnya, mengatakan dari data terbaru penurunan indeks ketersediaan lapangan kerja itu semakin menunjukkan dampak serius dari disrupsi teknologi digital.

"Perubahan sudah tak terelakkan, kita semua harus menerima ini sebagai fakta. Jangan ditolak lagi, tapi harus dihadapi," kata Aditya dari Yogyakarta, Selasa (9/1).

Menurut Aditya, penurunan indeks ketersediaan lapangan kerja akibat mekanisasi dan digitalisasi menjadi tantangan serius bagi bangsa. Perbedaan dampak antara lulusan pascasarjana dan SMA pun perlu dicermati lebih lanjut.

Untuk mengatasi hal itu diperlukan langkah-langkah adaptasi skill kerja dan peningkatan pelatihan sesuai dengan tren teknologi. "Peran pemerintah, lembaga pendidikan, dan industri perlu diperkuat untuk memastikan kesesuaian tenaga kerja dengan evolusi pasar. Pendidikan vokasi tampaknya akan makin penting," kata Aditya.

Investasi Terbatas

Dihubungi pada kesempatan terpisah, peneliti dari Mubyarto Institute, Awan Santosa, mengatakan menurunnya serapan tenaga kerja memang tidak terlepas dari digitalisasi dan automasi.

"Di sisi lain, investasi padat karya atau labour intensive yang makin terbatas. Masalah dukungan kualitas sumber daya manusia (SDM) juga menjadi faktor kunci melemahnya serapan tenaga kerja," ungkap Awan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Luar Negeri
Toko-toko di Bordeaux bersi...
Luar Negeri
Kenaikan Harga BBM Picu Aks...
Megapolitan
Pasar pangan murah menjangk...

Trisakti Bantu Warga Duri Kosambi Olah Sampah

1.5 jam yang lalu | Deri Henriawan

Megapolitan
Trisakti Bantu Warga Duri K...

Hari Santri Nasional

1.5 jam yang lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

1.5 jam yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.