Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Banyak ‘Deepfake’ di Internet, Begini Cara Bedakan Fakta dari Fiksi Ciptaan AI

📅 Selasa, 09 Jan 2024, 12:04 WIB | Oleh: Tim Penulis

Aspek "sirkulasi" merujuk pada penyebaran deepfake melalui platform dan kanal tertentu. Aspek "target" fokus pada korban deepfake, sementara dimensi "audiens" fokus kepada pendidikan publik untuk mengenali dan memahami bahaya deepfake.

Pelajaran lainnya bisa diambil dari Badan Keamanan Siber Cina yang telah menetapkan peraturan pada Januari 2023 untuk mengatur deepfake.

Tujuan peraturan ini untuk mengekang penyalahgunaan deepfake dengan mewajibkan persetujuan (consent), memverifikasi identitas pengguna model AI yang digunakan untuk membuat media sintetis. Selain itu, juga untuk memerangi disinformasi, memastikan kepatuhan hukum, dan mewajibkan konten untuk ditandai sebagai media sintetis guna menjaga kepercayaan publik terhadap informasi digital, dan mencegah penipuan.

Keempat, peningkatan kesadaran publik dan pendidikan adalah kunci untuk mempersenjatai masyarakat dengan pengetahuan untuk membedakan antara konten asli dan palsu. Meningkatkan kesadaran tentang bahaya konten manipulatif dapat membuat masyarakat menjadi konsumen informasi yang lebih kritis melalui lokakarya, kampanye media, dan kurikulum pendidikan.

Pada tataran global, beberapa platform menyediakan pendidikan publik untuk mengenali dan menghindari bahaya deepfake, di antaranya, MIT Media Literacy, Digital Media Literacy for All, The Washington Post Fact Checker Guide to Manipulated Videos, CNN Deepfake Explained, dan Microsoft Spotting Deepfake.

Di Indonesia sudah ada inisiatif serupa, seperti panel ahli cek fakta Pemilu 2024 yang dikelola oleh The Conversation Indonesia, dan Cek Fakta.

Terakhir, pentingnya platform repositori media yang dipercaya dan mekanisme autentikasi, misalnya seperti Reality Defender, dan Content Authenticity Initiative. Platform ini memainkan peran krusial dalam menjaga integritas informasi dengan menyediakan sumber yang terverifikasi dan dapat diandalkan. Ini juga termasuk penggunaan watermark digital dan teknologi lain untuk memastikan keaslian konten.

Melalui implementasi langkah-langkah strategis ini, kita bisa meminimalkan penyebaran deepfake yang meresahkan publik, melindungi integritas diskursus publik dan kebenaran informasi.The Conversation

Arif Perdana, Associate Professor Digital Strategy and Data Science, Monash University

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Luar Negeri
Inggris Hadapi Ancaman Rese...
Nasional
RI Butuh Lebih Banyak Wirau...

Anugerah Jurnalistik KWP 2026

13 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
Anugerah Jurnalistik KWP 2026

Perwakilan ICRC Temui Aung San Suu Kyi

18 menit yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Perwakilan ICRC Temui Aung ...
Olahraga
Kabar Gembira, Reno Salampe...
Luar Negeri
Tiongkok Waspadai Risiko Ke...

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.