Pertumbuhan Berkualitas Sulit jika Ekonomi Terus Bergantung ke Konsumsi
📅 Jumat, 22 Des 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Sumber: BPS - KORAN JAKARTA/ONES
>> Pemerintah perlu mendorong pertumbuhan sektor ekonomi yang berpotensi menciptakan lapangan kerja baru.
>> Belanja masyarakat akan bertambah 294,5 triliun rupiah, seiring dengan penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu).
JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia sulit diharapkan berkualitas jika terus bergantung pada konsumsi sebagai kontributor utama. Sebab, konsumsi tidak akan signifikan menyerap tenaga kerja dan meningkatkan daya beli masyarakat.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, YB Suhartoko, di Jakarta, Kamis (21/12), mengatakan konsumsi masyarakat memang penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.
Namun demikian, sebagai negara berpendapatan menengah agar tidak merasakan middle income trap, harus diupayakan memperbesar kontribusi pengeluaran investasi dengan membangun industri manufaktur yang kuat.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Penguatan investasi tentu akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan pendapatan masyarakat dan akhirnya peningkatan konsumsi yang punya daya tahan dalam jangka panjang," ungkap Suhartoko.
Diminta dalam kesempatan lain, Ekonom Celios, Nailul Huda, mengatakan kalau mau menarik pertumbuhan ekonomi ke angka 5,2 persen, pertumbuhan konsumsi rumah tangga harus berada di atas 5,2 persen. Bahkan bisa lebih dari itu di kisaran 5,4-5,5 persen jika komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi melambat di bawah 5,2 persen.
Sementara itu, pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, mengatakan kalau konsumsi rumah tangga yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi maka tetap memerlukan peningkatan pendapatan masyarakat. Untuk meningkatkan pendapatan masyarakat itu, tetap memerlukan penciptaan lapangan kerja baru.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Pemerintah perlu mendorong pertumbuhan sektor-sektor ekonomi tertentu yang memiliki potensi untuk menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan, seperti sektor industri, teknologi, dan jasa," kata Hera.
Dengan demikian, pemerintah perlu mendorong investasi baik dari dalam negeri maupun luar negeri untuk menciptakan lapangan kerja dan merangsang pertumbuhan ekonomi.
"Investasi perlu menerapkan kebijakan pajak yang mendukung penghasilan masyarakat dan memberikan insentif kepada perusahaan untuk meningkatkan produksi dan memberikan gaji yang lebih tinggi," katanya.
Selain itu, pemerintah juga perlu melindungi masyarakat terbawah dengan memperkuat sistem perlindungan sosial untuk melindungi masyarakat dari risiko ekonomi dan meningkatkan daya beli mereka.
Kunci Utama
Sebelumnya, Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Suahasil Nazara, mengatakan bahwa konsumsi masyarakat menjadi kunci utama untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,2 persen pada 2024. "Jadi untuk pertumbuhan 2024, Kementerian Keuangan masih melihat potensi kita tumbuh di sekitar 5,2 persen. Kunci dari Indonesia kalau mau tumbuh di angka itu adalah konsumsi," kata Suahasil dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (21/12).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!