Intelejen: Venezuela Bersiap Melakukan Invasi ke Guyana
📅 Jumat, 01 Des 2023, 05:36 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SBRASILIA - Perang antara Rusia dengan Ukraina belum usai, dan situasi dii Timur Tengah yang sedang panas, kini dunia akan kembali melihat konflik baru. Laporan dari intelijen Brasil baru-baru ini menunjukkan akan adanya tindakan militer oleh tentara Venezuela terhadap Republik Guyana dalam beberapa hari mendatang, meningkatkan kekhawatiran mengenai stabilitas regional dan sengketa wilayah di Amerika Selatan.
"Kementerian Pertahanan telah memantau situasi. Tindakan pertahanan telah ditingkatkan di wilayah perbatasan utara negara tersebut, mendorong kehadiran militer yang lebih besar," kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.
Dilansir oleh Defence Blog, kepentingan Venezuela terhadap wilayah Essequibo, wilayah luas kaya sumber daya alam yang terletak antara Guyana dan Venezuela, telah memicu ketegangan. Wilayah ini, lebih besar dari Yunani, adalah rumah bagi penduduk asli Guyana, dan kedua negara mengklaim kedaulatan atas wilayah tersebut.
Perselisihan yang sedang berlangsung berpusat di Essequibo, sebuah wilayah yang kaya akan minyak dan mineral berharga. Venezuela bertujuan untuk menentukan masa depannya melalui referendum yang dijadwalkan pada Minggu (3/12), yang bertujuan untuk mengubah Essequibo menjadi negara Venezuela. Namun, dampak praktis dan hukum dari pemungutan suara ini, termasuk potensinya untuk mengubah lanskap geopolitik, masih belum jelas, sehingga menimbulkan kegelisahan di kalangan penduduk wilayah tersebut.
Meliputi area seluas 61.600 mil persegi (159.500 kilometer persegi), Essequibo merupakan dua pertiga wilayah Guyana. Meskipun demikian, Venezuela secara historis mengklaim Essequibo, menelusuri kepemilikannya sejak masa kolonial Spanyol. Perbatasan yang ditentukan oleh arbiter internasional pada tahun 1899, pada masa Guyana menjadi koloni Inggris, telah diperebutkan oleh Venezuela untuk jangka waktu yang lama.
Sebaiknya Anda baca juga:
Komitmen Venezuela terhadap klaim teritorialnya berfluktuasi selama bertahun-tahun. Pada tahun 2015, pengumuman ExxonMobil mengenai penemuan minyak signifikan di dekat Essequibo menghidupkan kembali minat Venezuela terhadap wilayah tersebut.
Batas-batas yang disengketakan diselesaikan melalui arbitrase oleh perwakilan dari Inggris, Rusia, dan Amerika Serikat. AS sebagian mewakili Venezuela dalam diskusi tersebut karena putusnya hubungan diplomatik Venezuela dengan Inggris.
Pejabat Venezuela menegaskan tuduhan kolusi antara Amerika dan Eropa yang bertujuan menipu negaranya. Mereka berpendapat bahwa perjanjian tahun 1966 yang menyelesaikan perselisihan tersebut secara efektif membatalkan arbitrase awal. Guyana, satu-satunya negara berbahasa Inggris di Amerika Selatan, berpendapat bahwa perjanjian awal memiliki validitas hukum dan kekuatan mengikat. Pada tahun 2018, mereka mengajukan petisi ke Mahkamah Internasional untuk menegaskan pendirian ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Referendum yang akan segera terjadi di Venezuela dan meningkatnya retorika dari kedua negara menandakan meningkatnya ketegangan, meningkatkan kekhawatiran akan potensi aksi militer dan ketidakstabilan lebih lanjut di wilayah tersebut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!