Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Suplai Bahan Pokok Harus Dijaga

📅 Rabu, 29 Nov 2023, 11:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Suplai Bahan Pokok Harus Dijaga Doc: ISTIMEWA

JAKARTA - Pemerintah diminta menjaga stabilitas harga bahan pokok jelang periode Natal 2023 dan Tahun Baru 2024 (Nataru). Selama ini, masalah kelangkaan pasokan selalu terjadi saat permintaan meningkat akibat faktor musiman, termasuk Nataru. Salah satunya harga cabai masih belum stabil.

Anggota Komisi VI DPR RI, Muslim, menegaskan langkah konkret pengendalian kenaikan harga kebutuhan barang pokok tak cukup hanya dengan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pasar tradisional, namun harus ada skema koordinasi secara jelas dari tiap kementerian/ lembaga (K/L) yang berkaitan dengan persoalan pangan.

"Salah satu langkah yang dilakukan oleh Pak Menteri ketika harga-harga barang kebutuhan pokoknya naik adalah sidak pada pasar-pasar tradisional. Saya melihat langsung cukup bagus, tapi kadang-kadang setelah Pak Menteri sidak ini, tiba-tiba barangnya ini hilang lagi Pak Menteri. Ini real, kenyataan," ungkapnya dalam Raker dengan Mendag Zulkifli Hasan, di Jakarta, Senin (27/11).

Untuk itu, dia berharap Kementerian Perdagangan (Kemendag) melakukan berbagai langkah konkret menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan kebutuhan pokok di dalam negeri. Salah satunya dengan memperkuat koordinasi dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan K/L terkait lain.

"Saya pikir ini bukan hal yang baru. Kita harapkan ada langkah-langkah konkret yang dilakukan oleh pihak pemerintah. Yang kedua, tentu untuk menyikapi itu semua, tentu kita harapkan ada satu skema koordinasi Pak Menteri yaitu berkaitan juga konsolidasi dengan lembaga khususnya lembaga atau badan terkait ya, terutama di Badan Pangan Nasional," tutupnya.

Dinamika harga cabai di berbagai daerah menjelang akhir tahun menjadi fokus perhatian Kementerian Pertanian (Kementan), khususnya dalam menjaga stabilitas harga komoditas hortikultura jelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, menekankan pentingnya kehadiran di lapangan untuk mendukung petani, memantau produksi, mencatat masalah yang dihadapi, dan memberikan solusi bersama dinas pertanian.

"Jelang Naturu ini kita semua harus berada di lapangan. Kita harus berada di dekat petani, hitung produksinya, catat masalahnya dan berikan solusi. Tentunya kalau bersama-bersama dinas pertanian kita bisa temukan solusi terbaik itu," tegasnya, Selasa (28/11).

Naik Drastis

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto, memerintahkan petugas Kementan di lapangan terlibat dalam pemantauan harga, distribusi bantuan, pemantauan serangan hama, penyakit tanaman, serta memberikan edukasi kepada petani.

"Tim kami sudah di lapangan, ada yang memantau harga, ada yang mantau bantuan dititik bagi, tim POPT memantau serangan hama dan penyakit tanaman, dan beberapa tim hadir untuk mengedukasi petani," terang Anton, sapaan akrabnya.

Seperti diketahui, harga cabai melonjak drastis di banyak daerah. Di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan (Kalsel), warga mengeluhkan lonjakan harga cabai hingga 100 persen dalam kurun singkat.

Warga Desa Kupang Berkah Jaya, Umy Halimah, menyebutkan harga cabai di Pasar Ampera Simpang Empat mencapai 60.000 rupiah per kilogram (kg), lalu naik 10.000 rupiah menjadi 70.000 rupiah per kg pada lima hari kemudian. Bahkan saat ini, harga sudah mencapai 120.000 rupiah per kg.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Jepang akan Menaikan Biaya Visa Lima Kali Lipat Mulai 1 Juli

26 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Jepang akan Menaikan Biaya ...
Rona
Batasan Mengonsumsi Kafein ...
Waspada! Prakiraan Cuaca BMKG Ada Potensi Hujan Pemicu Banjir dan Longsor di Sumut Rabu Besok

Waspada! Prakiraan Cuaca BMKG Ada Potensi Hujan Pemicu Banjir dan Longsor di Sumut Rabu Besok

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.