Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kemandirian Pangan Modal Utama Melindungi Negara dari Dampak Eksternal

📅 Selasa, 28 Nov 2023, 00:55 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Kemandirian Pangan Modal Utama Melindungi Negara dari Dampak Eksternal Doc: ANTARA/DEDHEZ ANGGARA
Ket. MUARA PELABUHAN KARANGSONG ALAMI PENDANGKALAN I Nelayan berada di atas kapalnya yang bersandar di muara Karangsong, Indramayu, Jawa Barat, Senin (27/11). Menurut nelayan setempat, sejak sebulan terakhir pendangkalan terjadi di muara sungai yang berada di kawasan Pelabuhan Pendaratan Ikan Karangsong tersebut mengakibatkan ratusan kapal kesulitan untuk keluar masuk pelabuhan.

» Sektor pertanian dan kelautan memiliki peran penting dalam mendukung Produk Domestik Bruto.

» Dengan meningkatkan investasi dan fokus tingkatkan kualitas produk, RI dapat menjadi pemain utama di pasar internasional.

JAKARTA - Permintaan agar pemerintah dalam merumuskan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) memasukkan upaya mencapai swasembada pangan semakin meluas. Hal itu dipandang penting karena dalam beberapa waktu terakhir kebutuhan pangan Indonesia sangat bergantung pada produk impor sehingga sangat rentan dengan fluktuasi harga karena faktor ketidakpastian global.

Pemerintah pun diminta untuk menggali potensi pangan lokal yang bisa dikembangkan dan berkelanjutan sehingga memberi nilai tambah yang lebih besar pada perekonomian nasional.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, YB Suhartoko, mengatakan Indonesia sebagai negara kepulauan dengan 70 persen lautan dan 30 persen daratan sudah sepantasnya memanfaatkan potensi sumber daya kelautan yang luar biasa. "Selama ini agromaritim belum dimanfaatkan secara optimal," kata Suhartoko.

Namun demikian, kata Suhartoko, pemanfaatannya sebaiknya sesuai dengan konsep ekonomi biru, karena merupakan rancangan optimalisasi sumber daya air yang bertujuan untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi melalui berbagai kegiatan yang inovatif dan kreatif dengan menjamin usaha dan kelestarian lingkungan.

"Dengan konsep ekonomi biru ini, efisiensi akan tercapai karena limbah produksi dapat diolah dan hasilnya digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat," kata Suhartoko.

Ekonomi biru juga berpotensi menciptakan jenis usaha baru, dan tentu selanjutnya menyerap tenaga kerja lebih banyak. Lebih dari itu, tentu saja sangat ramah lingkungan.

Ketua Serikat Nelayan Indonesia (SNI), Budi Laksana, menegaskan perlunya Indonesia mengutamakan sektor maritim, terutama agromaritim, dalam upaya pembangunan nasional.

Sebab, sektor tersebut sudah terbukti memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan, tetapi juga memiliki dampak positif terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat.

"Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sektor pertanian dan kelautan memiliki peran penting dalam mendukung Produk Domestik Bruto (PDB) negara kita. Ini adalah aset yang harus kita manfaatkan secara optimal, jadi jangan saat krisis kita balik ke sektor maritirim dan pertanian, tapi harus jadi aset utama ekonomi nasional, fondasi pertumbuhan ekonomi," ungkap Budi.

Jutaan Nelayan dan Petani

Dia juga menegaskan peran penting agromaritim dalam menciptakan lapangan kerja dan mencapai kemandirian pangan. Sektor ini, menurut Budi, tidak hanya memberikan mata pencaharian bagi jutaan nelayan dan petani, tetapi juga mendukung ketahanan pangan nasional. Di tengah situasi global yang tidak pasti, memiliki kemandirian pangan adalah modal utama untuk melindungi negara dari potensi dampak eksternal.

Khusus produk agromaritim, jelasnya, juga berpotensi besar memberikan tambahan devisa bagi Indonesia dari kegiatan ekspor produknya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Pemulihan sawah pascabencana di Aceh

30 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pemulihan sawah pascabencan...
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

40 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...

Peremajaan lahan perkebunan kelapa

49 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Peremajaan lahan perkebunan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.