Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tertinggi Kedua di Dunia, BRIN Rumuskan Strategi Penanganan Tuberkulosis di Indonesia

📅 Selasa, 14 Nov 2023, 13:33 WIB | Oleh: Tim Penulis
Tertinggi Kedua di Dunia, BRIN Rumuskan Strategi Penanganan Tuberkulosis di Indonesia Doc: antarafoto
Ket. Penanganan Tuberkulosis

JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan tuberkulosis merupakan salah satu penyakit kuno yang menular lewat udara dan ironisnya Indonesia menjadi penyumbang kedua kasus tuberkulosis terbesar di dunia setelah India.

Kepala Organisasi Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN Indi Dharmayanti mengatakan integrasi penanganan dan deteksi genomik perlu dilakukan agar Indonesia terbebas dari penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis tersebut.

"BRIN terus bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menghasilkan riset yang tepat guna dan sesuai dengan kebutuhan," ujarnya dalam sebuah webinar yang dipantau di Jakarta, Selasa (14/11).

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2018, angka prevalensi tuberkulosis di Indonesia sebesar 4,2 per 1.000 penduduk. Prevalensi itu lebih tinggi dari target yang hanya dapat satu orang per 1.000 penduduk.

Indi menuturkan permasalahan tuberkulosis harus menjadi perhatian serius dan kerja sama lintas sektor dalam penanganan penyakit tersebut.

Menurutnya, langkah pencegahan dan pengendalian tuberkulosis perlu terus diperkuat seperti penyakit menular lainnya. Kegiatan pengendalian dilaksanakan melalui modifikasi dari berbagai aspek yang berkaitan, yaitu dari penderita, penyebab, dan lingkungan.

"Sekarang ini kita menghadapi multiborden penyakit tuberkulosis, penyakit ini tidak hanya menjadi penyebab kesakitan dan kematian tetapi juga menjadi ancaman atau komorbid bagi penderita penyakit tidak menular maupun mengancam ke penderita penyakit menular lainnya," ungkap Indi.

Beberapa penyakit yang berhubungan dengan keparahan penyakit tuberkulosis adalah tuberkulosis dengan HIV, tuberkulosis dengan diabetes melitus, dan akibat pengobatan tuberkulosis menjadi komorbid dengan penyakit hepatitis.

Selain itu, tuberkulosis menjadi resiko terjadinya gangguan jiwa pada penderita tuberkulosis yang mengalami pengobatan jangka panjang terutama pada penderita tuberkulosis resisten berbagai obat serta efek samping obat yang menyebabkan terjadinya hepatitis.

"Tuberkulosis memerlukan upaya kita bersama dalam pencegahan dan pengendaliannya. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat mulai dari upaya pencegahan, vaksinasi, deteksi dini, dan pengobatan," kata Indi.

Dia mengatakan, dengan tantangan pengendalian tuberkulosis yang masih besar perlu diketahui kendala dan peluang dalam penanganan penyakit tersebut. "Hal ini agar upaya pengendalian tuberkulosis di masa depan menjadi lebih efektif dan efisien dalam menurunkan beban tuberkulosis," imbuhnya.

Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN Wahyu Pudji Nugraheni mengatakan pencegahan tuberkulosis memiliki peran yang sama penting dengan pengobatan penyakit menular tersebut.

Pada tingkat fasilitas kesehatan, pencegahan penyebaran tuberkulosis dapat diupayakan melalui tindakan pengendalian infeksi. Pada level masyarakat, tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan dan kesehatan pernafasan.

"Menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, menggunakan masker ketika berada di tempat ramai dan berinteraksi dengan penderita tuberkulosis, dan tidak meludah sembarangan dapat mencegah penyebaran droplet yang mengandung bakteri tuberkulosis," kata Wahyu.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

36 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...

Peremajaan lahan perkebunan kelapa

45 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Peremajaan lahan perkebunan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.