Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

3 Cara Agar Pendidikan di Papua Lebih Cerminkan Nilai dan Budaya Lokal

📅 Selasa, 07 Nov 2023, 12:30 WIB | Oleh: Tim Penulis

Sekolah, orangtua, komunitas adat Papua, dan pemerintah harus bekerja sama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung kebutuhan semua anak Papua.

Pentingnya kerja sama tersebut telah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 75 Tahun 2016 serta Panduan Pengembangan Kurikulum Operasional di Satuan Pendidikan.

Tetapi, realita pelaksanaannya masih problematik. Di satu sisi, sekolah sering mengeluhkan orang tua Papua acuh tak acuh dan kurang kompeten dalam pendidikan anaknya. Di sisi lain, pelayanan sekolah yang kurang maksimal membuat orang tua dan masyarakat apatis.

Disinilah pentingnya membangun hubungan relasional yang kuat antara guru dengan orang tua dan komunitas adat Papua. Komunikasi yang terbuka dan saling menghormati menjadi dasar dalam menciptakan hubungan tersebut. Bahasa informal, sapaan akrab seperti "Mama" dan "Bapa" serta kunjungan periodik ke rumah orang tua dapat menciptakan atmosfer yang hangat.

Selain itu, menciptakan rasa kepemilikan atas sekolah dan pendidikan kepada orang tua dan komunitas adat Papua sangatlah penting. Terutama karena konsep pembelajaran kolaboratif dan berbasis komunitas adalah salah satu filosofi pembelajaran orang Papua.

Lebih dari sekedar pemangku kepentingan, orang tua dan komunitas lokal seharusnya menjadi co-leaders (pemimpin bersama) dalam seluruh aktivitas pendidikan di sekolah. Mereka dilibatkan dalam pengambilan keputusan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program-program pembelajaran, karena merekalah penjaga pengetahuan dan penasihat budaya, yang dapat memberikan masukan dalam pengembangan kurikulum, serta membantu memelihara kebudayaan dan tradisi Papua di luar sekolah.

Penelitian saya tahun 2018, menunjukkan bahwa ketika salah satu orang tua siswa diundang untuk mengajarkan proses pembuatan Noken (tas tradisional Papua) di dalam kelas, siswa tampak antusias bertanya dan mencatat hasil diskusi mereka. Aktivitas ini menghadirkan pengalaman nyata budaya Papua ke dalam pembelajaran, sehingga meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi dan literasi siswa.

Integrasi budaya dan bahasa

Banyak peneliti dan pemerhati pendidikan di Papua yang menyerukan implementasi pendekatan pembelajaran kontekstual dan berbasis budaya Papua di sekolah. Artikel terbaru saya merangkum 5 poin penting terkait filosofi dan pendekatan pedagogi Papua yaitu relevansi budaya, perspektif holistik, tradisi lisan dan penceritaan, pembelajaran kolaboratif dan berbasis komunitas, serta pembelajaran berbasis tempat atau lingkungan.

Budaya tidak hanya identitas, tetapi juga sumber pengetahuan yang tak ternilai. Dalam konteks Papua yang kaya akan budaya, mengabaikan budaya lokal dalam pendidikan berarti mengabaikan aspek penting dari identitas siswa Papua. Integrasi budaya lokal memberikan siswa ruang untuk menghargai identitas mereka sendiri dan memperoleh rasa percaya diri yang lebih besar.

Lebih dari itu, integrasi budaya lokal juga membantu mengatasi hambatan dalam proses belajar-mengajar. Pemahaman mendalam tentang budaya lokal memungkinkan guru untuk merancang metode pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa Papua. Hal ini menciptakan koneksi emosional yang kuat antara siswa dan pembelajaran, sehingga motivasi belajar mereka meningkat. Dengan terintegrasinya budaya lokal dalam kurikulum, siswa akan melihat relevansi materi dengan kehidupan sehari-hari sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan mudah dipahami.

Contohnya, buku pelajaran dan materi pembelajaran yang digunakan dapat direvisi untuk mencerminkan keberagaman budaya di Papua. Ini termasuk representasi karakter dan cerita yang sesuai dengan kehidupan anak-anak Papua.

Selain itu, sekolah dapat mempromosikan penggunaan bahasa lokal Papua dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran bilingual (bahasa Papua dan bahasa Indonesia) sebagai bahasa pengantar pembelajaran, atau melalui kurikulum muatan lokal bahasa daerah Papua. Ini membantu anak-anak Papua untuk lebih mudah memahami pelajaran.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Berpotensi Melemah Lanjutan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.