Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kematian Akibat Stroke Global Diprediksi Meningkat Benerapa Dekade Mendatang

📅 Minggu, 22 Okt 2023, 12:25 WIB | Oleh:
Kematian Akibat Stroke Global Diprediksi Meningkat Benerapa Dekade Mendatang Doc: Istimewa
Ket. Ilustrasi

Sebuah laporan baru memperingatkan bahwa jumlh orang yang meninggal akibat stroke di seluruh dunia diperkirakan akan meningkat sebesar 50 persen pada tahun 2050.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap tahun, 15 juta orang di seluruh dunia mengalami stroke. Dari jumlah tersebut, sekitar 5 juta orang meninggal dan 5 juta lainnya menjadi cacat permanen.

Meskipun hasil stroke telah meningkat secara drastis di Amerika Serikat selama beberapa dekade terakhir, kematian akibat stroke telah berpindah dari urutan ketiga ke urutan kelima penyebab utama kematian, berdasarkan data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC). Namun, hal tersebut tidak terdistribusi secara merata di seluruh dunia.

Data WHO menunjukkan bahwa sejak tahun 2005, probabilitas global bahwa seseorang akan mengalami stroke telah meningkat sebesar 50 persen. Stroke juga merupakan penyebab kematian kedua di seluruh dunia.

Laporan baru, yang diterbitkan pada 9 Oktober 2023, di Lancet Neurology, memproyeksikan negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah akan mengalami beban stroke terburuk di tahun-tahun mendatang, dan lebih banyak stroke akan terjadi pada semua orang, termasuk semakin banyak orang yang lebih muda, di mana pun tempat tinggal seseorang.

"Stroke akan menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat utama dalam 30 tahun ke depan. Namun, meskipun angka-angka ini terdengar suram, ada beberapa intervensi yang dapat kita lakukan," kata Salman Azhar, MD, direktur program stroke di Rumah Sakit Northwell Lenox Hill, yang tidak terlibat dalam laporan tersebut, dikutip dari Everyday Health, Minggu (15/10).

Dalam laporan baru tersebut, para ahli stroke global memperkirakan bahwa pada tahun 2050, 91 persen kematian akibat stroke 8,8 juta orang akan terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, dibandingkan dengan 86 persen saat ini. Pada saat yang sama, kematian akibat stroke di negara-negara berpenghasilan tinggi diperkirakan akan tetap berada di angka 900 ribu selama tiga dekade ke depan, yang memperlebar kesenjangan disparitas.

"Hal terbesar adalah faktor risiko yang tidak terkendali menjadi lebih umum," ujar Eseosa Ighodaro, MD, PhD, seorang ahli saraf stroke, ilmuwan saraf, dan peneliti kesenjangan kesehatan di Rumah Sakit Universitas Emory dan Rumah Sakit Memorial Grady di Atlanta.

"Kita menjadi lebih berat sebagai sebuah dunia. Kita menjadi lebih banyak duduk, dan diabetes serta tekanan darah tinggi terus meningkat," tambahnya.

Seorang profesor neurologi dan dekan di University of California di San Fransisco, Bruce Ovbiagele mengatakan, perubahan gaya hidup ini menciptakan lebih banyak penyakit kronis secara umum. Menurutnya, stroke hemoragik, yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak, juga lebih sering terjadi di beberapa negara berpenghasilan rendah dan menengah dibandingkan dengan negara-negara yang lebih kaya.

Data yang diterbitkan oleh National Library of Medicine menunjukkan stroke hemoragik lebih sering terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah dan di antara individu Asia.

"Itu adalah jenis stroke yang lebih mematikan," imbuh Ovbiagele, yang mungkin juga berkontribusi pada peningkatan jumlah kematian akibat stroke di tahun-tahun mendatang.

Tetapi faktor lain lebih positif, yakni orang-orang di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah hidup lebih lama dari sebelumnya, yang berarti ada lebih banyak orang tua di negara-negara ini yang hidup cukup lama untuk mengalami stroke.

"Ini adalah fenomena yang disebut transisi epidemiologi, atau perubahan pola kesuburan dan kematian, termasuk harapan hidup dan penyebab kematian," ucap Ovbiagele.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Ekonomi
Antrean BBM Jadi Sorotan, G...
Olahraga
Liverpool Gagal Menang di A...
Advertisement
Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.