Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ini Bahaya Sindrom Kekurangan Energi Relatif dalam Olahraga

📅 Minggu, 22 Okt 2023, 11:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Ini Bahaya Sindrom Kekurangan Energi Relatif dalam Olahraga Doc: The Conversation/Shutterstock
Ket. Ilustrasi

Daniel Sanjuán Sánchez, Universidad San Jorge

Mencapai performa yang optimal adalah tujuan dari banyak atlet. Namun, ada musuh diam yang dapat merusak upaya mereka dan bahkan membahayakan kesehatan mereka: sindrom kekurangan energi relatif dalam olahraga (relative energy deficiency syndrom, juga dikenal sebagai RED-S). Penderitanya dapat menjadi sangat fokus untuk mencapai tujuan mereka sehingga mereka melewatkan tanda-tanda peringatan.

Seperti namanya, kondisi ini diakibatkan oleh ketidakseimbangan yang berkepanjangan antara asupan makanan dan pengeluaran energi. Dengan kata lain, atlet tidak mengonsumsi kalori yang cukup untuk mendukung tuntutan aktivitasnya. Kekurangan ini mungkin disebabkan oleh pembatasan diet secara sukarela, asupan yang tidak mencukupi, atau peningkatan pengeluaran energi karena latihan.

Selain itu, RED-S memengaruhi semua tingkat dan disiplin ilmu: dapat mempengaruhi antara 15% dan 80% praktisi tergantung pada jenis olahraganya.

Konsekuensi relative energy deficiency

Lampu merah pertama menyala pada 1992, ketika konsep triad perempuan mulai beredar. Label ini mengelompokkan tiga gangguan yang saling berkaitan: gangguan makan, menstruasi yang tidak teratur, dan keropos tulang. Kemudian, konsep ketersediaan energi rendah (LEA) muncul dan, pada 2014, Komite Olimpiade Internasional (IOC) mengakui RED-S sebagai entitas klinis yang berbeda. Meskipun terkait dengan LEA, efeknya lebih terlihat dalam jangka panjang.

Konsensus terbaru dari IOC, yang baru saja diterbitkan, memberikan daftar panjang bahaya kesehatan yang diakibatkan oleh RED-S. Hal-hal tersebut antara lain sebagai berikut:

    • Gangguan hormon (kehilangan menstruasi, libido rendah).

    • Tulang melemah dan rentan terhadap patah tulang akibat stres.

    • Inkontinensia urin.

    • Gangguan tidur.

    • Berkurangnya fungsi otot.

    • Kasih sayang terhadap sistem kekebalan tubuh.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Tak Mau Ketinggalan, Warga Yunani Juga Berunjuk Rasa Beratnya Beban Hidup

Tak Mau Ketinggalan, Warga Yunani Juga Berunjuk Rasa Beratnya Beban Hidup

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.