Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ketika Ekonomi Kreatif Jadi Kekuatan Politik, dari 'Nation Branding' hingga 'Soft Power'

📅 Sabtu, 30 Sep 2023, 11:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Ketika Ekonomi Kreatif Jadi Kekuatan Politik, dari 'Nation Branding' hingga 'Soft Power' Doc: The Conversation/Shutterstock/Elizaveta Galitckaia
Ket. Unsur budaya dan kearifan lokal sebagai instrumen kreativitas menciptakan keunggulan yang memberi identitas dan karakteristik suatu negara.

Afni Regita Cahyani Muis, Universitas Darussalam Gontor

Industri di bidang budaya dan kreativitas makin mendapat perhatian dalam forum-forum multilateral dan regional, termasuk di ASEAN maupun G20. Sebab, sektor ini dianggap dapat menjadi media pemulihan ekonomi pascapandemi COVID-19. Dalam gagasan Creative Economy 2030 Asian Development Bank Institute (ADB), ekonomi kreatif bahkan menjadi strategi besar untuk mengaplikasikan pembangunan berkelanjutan.

Ekonomi kreatif merupakan sebuah gerakan intelektual yang lahir dari industri kreatif dengan menjadikan kreativitas sebagai modal. Menurut pakar industri kreatif asal Inggris, John Howkins, ekonomi kreatif menghubungkan berbagai bidang, seperti seni dan budaya, sains dan teknologi, bisnis dan perdagangan. Artinya, integrasi ekonomi kreatif dengan sektor lain dapat meningkatkan nilai tambah.

Ramainya diskusi mengenai ekonomi kreatif menunjukkan bagaimana ia kini telah menjadi bagian dari agenda ekonomi politik global. Tak hanya memiliki nilai ekonomi, industri ini memiliki pengaruh dalam membentuk 'merek' suatu bangsa (nation branding) dan soft power, bahkan kultur universal.

Organisasi internasional pun telah menjadi wadah untuk menyatukan dan mendorong minat yang sama antara satu negara dengan negara yang lain. Ini misalnya terkait kekayaan intelektual dalam Intellectual Property Organization (IPO), perdagangan global dalam World Trade Organization (WTO), aspek pariwisata oleh UNWTO, dan pendidikan dan kebudayaan di bawah naungan UNESCO.

Sebagai pengajar ilmu hubungan internasional yang fokus dalam isu-isu ekonomi politik, saya ingin menjelaskan bagaimana ekonomi kreatif memegang pengaruh dalam percaturan politik internasional-terutama terkait fungsinya sebagai soft power dan dalam pembentukan 'merek' suatu negara.

Ekonomi kreatif sebagai soft power

Pergeseran agenda politik internasional menjadikan ekonomi sebagai sektor yang strategis dalam membentuk kekuatan nasional. Negara tidak lagi menjadi satu-satunya aktor politik yang berperan strategis dalam percaturan politik global, namun juga sektor swasta. Terjadi perubahan orientasi kekuatan politik tak hanya pada militer tetapi juga pada sumber daya yang tak kasat mata (intangible power resources) seperti budaya, ideologi, dan kelembagaan.

Di sinilah ekonomi kreatif memainkan peranan penting sebagai kontributor dalam membentuk soft power (kemampuan menyebarkan pengaruh lewat pendekatan nonkoersif) suatu negara-dan ini terlihat jelas di masa pandemi.

Walaupun terkena dampak dari mobilitas masyarakat yang terbatas akibat COVID-19, ekonomi kreatif adalah salah satu sektor yang berhasil mempertahankan aktivitasnya melalui platform digital. Seniman, pengusaha maupun komunitas kreatif melakukan konser online dan pameran digital. Tren media sosial juga turut menyebarkan informasi terkini bahkan viral kepada masyarakat.

Pada 2020, misalnya, konser online di seluruh dunia berhasil membukukan pendapatan hingga US$600 juta (Rp9,29 triliun).

Tak hanya itu, distribusi produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pun terbantu dengan adanya inovasi dari aplikasi transportasi online serta e-commerce yang menjadi pasar digital yang mempermudah transaksi perdagangan. Menurut UNESCO, pada tahun 2021, ekonomi kreatif berkontribusi dalam pemulihan ekonomi global dengan membuka 30 juta lapangan pekerjaan.

Sebagai sektor yang secara global didorong untuk mencapai pemulihan ekonomi, pertumbuhan ekonomi kreatif berpeluang terus mengalami transformasi. Ini penting dalam membentuk soft power suatu negara dan pembangunan ekonominya. Sebab, tidak hanya mendorong terciptanya inovasi dan kreasi, ekonomi kreatif juga memberdayakan potensi budaya dan kearifan lokal sebagai sumber daya ekonomi dengan memanfaatkan kreativitas kontemporer dan teknologi untuk menciptakan nilai komersial.

Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) melaporkan bahwa kontribusi sektor ekonomi kreatif ke pemasukan negara-negara terus bertumbuh tiap tahunnya. Ekspor barang-barang kreatif global meningkat 25% menjadi US$524 juta (Rp8,11 triliun) pada 2020 dibandingkan satu dekade sebelumnya, sementara ekspor jasa kreatif dunia melambung 125% menjadi hampir US$1,1 miliar (Rp17,03 triliun) pada periode yang sama. Negara berkembang menyumbang 80% ke ekspor barang-barang kreatif, dan ini tentunya baik untuk pertumbuhan ekonomi dan memperkuat soft power mereka.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.00...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.