Bagaimana ASEAN Menyeimbangkan Posisi di Tengah Rivalitas AS-Tiongkok?
📅 Jumat, 29 Sep 2023, 13:46 WIB | Oleh: Tim PenulisHasil dari KTT ASEAN Ke-34 tahun 2019 di Thailand, mekanisme resolusi konflik ASEAN yang merujuk pada ASEAN Outlook on Indo-Pacific (AOIP) berkomitmen untuk menyelesaikan perselisihan secara damai sesuai dengan prinsip-prinsip hukum internasional yang diakui, termasuk UNCLOS 1982, Piagam PBB, Piagam ASEAN, dan Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara (TAC).
Pada awalnya AOIP adalah respons terhadap kehadiran Dialog Keamanan Kuadrilateral (Quadrilateral Security Dialogue) di Indo-Pasifik. Dialog ini biasanya disebut Quad, yakni dialog informal antara AS, Jepang, Australia dan India terkait isu-isu keamanan regional.
AOIP bisa dijadikan strategi bagi ASEAN dalam menghadapi kontestasi AS-Cina dengan merujuk pada tiga prinsip utama ASEAN: sentralitas, inlusivitas dan saling melengkapi. Sentralitas ASEAN sangat dibutuhkan di tengah dinamika pergeseran geopolitik dan geostrategis di kawasan Indo-Pasifik. Dalam hal ini, AOIP membuka dialog dan kerja sama dengan semua negara tanpa terkecuali.
Dialog ini juga akan mampu mengedepankan sinergi di tengah berbagai perbedaan konsep Indo-Pasifik dan ditujukan untuk memperkuat mekanisme yang sudah ada dalam menghadapi tantangan regional dan global.
Sebaiknya Anda baca juga:
Netral tidak berarti lemah
Ada pemikiran bahwa ASEAN perlu memihak salah satu blok, setidaknya menjadi "halaman belakang" supaya posisi ASEAN lebih kuat dan tidak ragu mengambil keputusan. Hal ini didasarkan pada dinamisnya situasi politik dan keamanan internasional.
Dalam politik global, tidak memihak kadang bisa diasumsikan lemah, karena tidak memiliki aliansi keamanan sebagai daya tawar (bargaining position) yang kuat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Padahal, membangun infrastruktur dan perekonomian kawasan tidak harus dengan menjadikan kawasan sebagai pangkalan militer baik AS ataupun Cina demi mendapatkan investasi.
ASEAN hanya perlu memegang teguh prinsip non-alignment, yang artinya ASEAN tidak ikut pada kutub atau kekuatan manapun, demi menjaga stabilitas dan perdamaian kawasan.
Ekonomi dan politik saling memengaruhi. ASEAN harus pelan-pelan mengurangi ketergantungan pada negara mana pun, baik blok Timur maupun Barat dalam bidang ekonomi maupun politik serta pertahanan keamanan agar tak mudah terombang-ambing dan memiliki daya tawarnya sendiri.![]()
Irma Indrayani, Head of International Relations Department, Universitas Nasional
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!