Bagaimana ASEAN Menyeimbangkan Posisi di Tengah Rivalitas AS-Tiongkok?
📅 Jumat, 29 Sep 2023, 13:46 WIB | Oleh: Tim PenulisKetiadaan protes terhadap Peta Baru Cina pada Deklarasi ASEAN Concord IV bisa jadi karena fokus organisasi regional lebih kepada kepentingan pertumbuhan ekonomi. ASEAN tampaknya berusaha memisahkannya dengan isu politik.
Merujuk pada konsep balance of power (keseimbangan kekuasaan), jika ada sebuah negara yang kuat di kawasan, maka negara lain hanya mempunyai dua pilihan, bergabung sebagai aliansi atau bergabung dengan aliansi lain dengan tujuan menyeimbangkan kekuatan. Harapannya, keseimbangan bisa membuat negara-negara tidak saling memaksakan kehendaknya atau mengganggu kepentingan negara lain.
Konkritnya, ada Cina yang merupakan negara kuat di kawasan Asia, maka negara lain di kawasan bisa memilih untuk bersekutu dengan Cina atau bersekutu dengan kubu lain-dalam hal ini AS-untuk menyeimbangkan kekuatan di kawasan agar pengaruh Cina tidak terlalu dominan.
ASEAN sebenarnya tidak harus memilih salah satu negara hegemon tersebut, tetapi justru harus menjaga hubungan antar sesama negara anggota. Fokus ASEAN lebih pada kerja sama ekonomi, transformasi digital, kendaraan listrik, dan ekonomi hijau.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kerja sama ini dapat dilakukan melalui mekanisme Kemitraan Strategis, Trans-Pacific Partnership (TPP) dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).
ASEAN harus fokus pada kerja sama ekonomi baik dengan AS maupun Cina dibandingkan kerja sama aliansi pertahanan keamanan. Tidak perlu memilih salah satu pihak, karena dalam hal ekonomi, keduanya sama-sama penting.
AS dan Cina sama-sama penting bagi ASEAN
Sebaiknya Anda baca juga:
Cina adalah mitra dagang terbesar ASEAN selama 12 tahun terakhir. Dengan investasi lebih dari US$310 miliar atau setara Rp4.800 triliun, Cina menjadi sumber Penanaman Modal Asing (Foreign Direct Investment/FDI) terbesar keempat terhadap negara ASEAN.
AS juga merupakan mitra dagang strategis-terbesar keempat bagi ASEAN. Ini menunjukkan kawasan ini menjadi semakin penting bagi dunia usaha dan pemerintah AS.
ASEAN menikmati surplus perdagangan lebih dari US$250 miliar (Rp3.862 triliun) dari AS. Tercatat pada 2021, ASEAN mengekspor mesin dan peralatan listrik senilai US$73 miliar (Rp1.130 triliun), atau 28% dari seluruh ekspor ASEAN ke AS.
Sementara itu, reaktor nuklir, ketel uap, dan bagian-bagiannya menyumbang ekspor sebesar 14% atau senilai US$38 miliar (Rp588 triliun). Pakaian dan aksesori pakaian serta furnitur masing-masing menyumbang sekitar ekspor senilai US$15 miliar (Rp232 triliun), 6% dari total ekspor ASEAN.
Meski kemitraan strategis AS dan Cina penting bagi ASEAN dan harus dipertahankan. Jangan sampai masing-masing negara ASEAN terbawa dalam tarik menarik kepentingan ekonomi, politik, dan keamanan dari AS maupun Cina. Sentralitas ASEAN harus bebas dari pengaruh eksternal manapun.
Penguatan mekanisme AOIP
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!