Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Picu Berbagai Penyakit, Polusi Udara di Jakarta Semakin Mengkhawatirkan

📅 Jumat, 15 Sep 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Sementara itu, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Corie Indria Prasasti, mengatakan pemerintah perlu menyusun regulasi yang ketat terkait polusi udara. "Pemerintah memiliki kewenangan menyusun dan menetapkan regulasi terkait emisi polutan udara dan perlindungan lingkungan," kata Corie kepada Koran Jakarta, Kamis (14/9).

Dia mengatakan, regulasi tersebut termasuk aturan untuk industri, kendaraan bermotor, pembangkit listrik, dan sektor lain yang berkontribusi pada polusi udara.

Langkah lainnya adalah dengan investasi pada infrastruktur ramah lingkungan, mulai dari transportasi umum, inovasi teknologi tepat guna dalam infrastruktur pengolahan limbah, dan fasilitas lain yang membantu mengurangi polusi udara.

Sementara itu, peneliti Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi mengatakan tata kota Jakarta masih sangat sentralistis sehingga pergerakan searah terjadi, bisa dilihat di semua jalur KRL, Busway, MRT saat jam berangkat dan pulang kantor pasti penuh sesak, sedangkan jalur sebaliknya lenggang.

Kota-kota mandiri di sekitar Jakarta pun belum mampu mengatasi masalah pembagian ruang produktif yang efektif. Rata-rata hanya menjadi tempat tinggal dan aktivitas leisure saja, sedangkan sentra perkantoran dan industri masih terkonsentrasi di Jakarta sehingga tidak mengubah pola pergerakan para komuter harian.

Pada kesempatan lain, pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko mengatakan polusi udara di Jakarta adalah beban ekonomi yang luar biasa. Selain beban subsidi bahan bakar yang menguap di jalanan, dampaknya juga berdampak buruk pada kesehatan masyarakat. Biaya kesehatan untuk sejumlah penyakit pernapasan seperti asma, bronkitis, dan infeksi saluran pernapasan lainnya telah meningkat seperti diakui oleh BPJS Kesehatan.

"Kalau terus dibiarkan, ini akan mengakibatkan biaya kesehatan yang lebih tinggi bagi individu maupun sistem perawatan kesehatan secara keseluruhan," kata Aditya.

Polusi juga pasti menurunkan produktivitas pekerja. Sebab peningkatan penyakit yang terkait dengan polusi bisa menyebabkan absensi pekerja yang lebih tinggi dan kinerja yang menurun. Hal ini akan berdampak negatif pada ekonomi, baik melalui penurunan produksi maupun peningkatan biaya tenaga kerja. Pada gilirannya pertumbuhan ekonomi juga akan turun.

Penerapan ERP

Maka menurut Aditya sudah seharusnya pemerintah baik Pemda DKI dan pemerintah pusat mengambil tindakan cepat untuk mengurangi polusi udara dengan mempercepat pensiun dini PLTU Batubara dan transportasi publik yang efisien dan menggantikan sumber energi dengan yang lebih bersih.

"Mulai pertimbangkan juga penerapan Electronic Road Pricing (ERP) di Jakarta yang agresif. Dengan membebankan biaya tambahan pada kendaraan yang melintasi wilayah padat lalu lintas atau pada jam-jam sibuk, ERP mendorong pengguna jalan untuk mencari alternatif transportasi atau waktu perjalanan yang lebih baik. Ini akan mengurangi kemacetan, memperbaiki mobilitas kota, dan mempersingkat waktu perjalanan, yang pada gilirannya akan menguntungkan ekonomi kota," papar Aditya.

Saat ini di Jakarta, 50 persen waktu atau hampir 13 jam dihabiskan di luar rumah, sehingga hubungan dengan keluarga tidak produktif. Kondisi tersebut dibiarkan selama puluhan tahun, karena kepentingan industri otomotif pasti bertentangan dengan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Penerimaan dari sistem ERP menurut Aditya dapat digunakan untuk membiayai proyek infrastruktur dan pemeliharaan jalan yang lebih baik. Dengan cara ini, ERP tidak hanya mengurangi kemacetan tetapi juga meningkatkan kualitas jalan dan transportasi umum, yang akan mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Luar Negeri
Serangan Houthi Meningkat, ...

Kesialan Persebaya atau Dewi Fortuna bagi PSM?

34 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Kesialan Persebaya atau Dew...
Olahraga
Mulai 2027, Aturan Pelacaka...
Advertisement
Kronologi Kecelakaan Maut Honda Mobilio Tabrak Pick Up di Rasuna Said, 1 Orang Tewas

Kronologi Kecelakaan Maut Honda Mobilio Tabrak Pick Up di Rasuna Said, 1 Orang Tewas

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.