Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tantangan Berat, Kemenkes: Stigma Masih Jadi Tantangan Pasien TB dalam Pengobatan

📅 Jumat, 25 Agu 2023, 00:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Tantangan Berat, Kemenkes: Stigma Masih Jadi Tantangan Pasien TB dalam Pengobatan Doc: ANTARA/Pexels/cottonbro studio
Ket. Ilustrasi seseorang batuk.

Jakarta - Tantangan berat, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Imran Pambudi mengatakan stigma dan diskriminasi masih menjadi tantangan pasien tuberkulosis (TB) yang menyebabkan mereka enggan menyelesaikan pengobatan.

"Pasien TB yang tidak mau mulai pengobatan ataupun tidak menyelesaikan pengobatan gara-gara masalah stigma," kata dia dalam webinar "TB-CAPS: Together Reducing Tuberculosis Stigma", Kamis.

Menurut Imran, masalah stigma dan diskriminasi perlu disikapi cukup serius melibatkan tidak hanya petugas kesehatan tetapi perlu adanya kerja sama dari sektor-sektor lain termasuk komunitas.

"Masih kurangnya pengetahuan masyarakat dan petugas kesehatan dan seringkali pasien menstigma dirinya sendiri, petugas kesehatan (harus) mempunyai perilaku kesadaran jangan menstigma pasien TB," jelas dia.

Menurut Kementerian Kesehatan, stigma terkait TB yang berkembang salah satunya adalah anggapan masyarakat bahwa ini merupakan penyakit masyarakat tidak mampu.

Selain stigma dan diskriminasi, pasien TB juga mengalami masalah dalam mengakses layanan TB yang berkualitas dan untuk mengatasi hal ini Imran mendorong adanya suatu umpan balik dari masyarakat terhadap pelayanan TB yang disediakan pemerintah.

Di sisi lain, dibutuhkan juga data dan informasi terkait hambatan dalam mengakses layanan TB, membuat lingkungan bersahabat bagi pasien untuk menyelesaikan pengobatan dengan baik serta memperkuat komunitas dan masyarakat untuk membuat lingkungan yang menyenangkan dan bersahabat bagi pasien.

Dari segi pengobatan, ini pun menjadi bagian dari tantangan bagi pasien. Menurut Imran, durasi pengobatan cukup lama membuat pasien TB sering disingkirkan atau diberhentikan dari pekerjaan karena dianggap tidak bisa bekerja dengan baik selama masa pengobatan.

Oleh karena itu, imbuh dia, nantinya diharapkan adanya pengobatan TB yang memungkinkan pemulihan pasien lebih singkat semisal dua bulan.

"Ke depan ada rejimen pengobatan yang hanya dua bulan, dan pasien TB RO itu ke depan harapan kita ada pengobatan yang membutuhkan waktu empat bulan sehingga mereka jadi lebih cepat pulih dan segera kembali beraktivitas," demikian harap Imran.

Menurut Kementerian Kesehatan merujuk laporan Global TB tahun 2022 diketahui jumlah kasus TB terbanyak yakni pada kelompok usia produktif terutama pada usia 25 sampai 34 tahun. Di Indonesia jumlah kasus TB terbanyak yaitu pada kelompok usia produktif terutama pada usia 45 sampai 54 tahun.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Olahraga
Iran Membidik Langkah Berse...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.