‘Demam Mumi' Melanda Eropa di Era Victoria, Mengapa Orang Eropa Makan Mumi Mesir?
📅 Minggu, 20 Agu 2023, 10:30 WIB | Oleh: Tim PenulisKualitas acaranya cenderung hambar, dengan segala sesuatu mulai dari lagu Bangles Walk Like an Egyptian yang diputar melalui pengeras suara hingga para hadirin yang disiram dengan minuman gin.
Mumi tersebut hanyalah seorang aktor yang dibalut perban, namun acara ini merupakan perpaduan sensorik yang memabukkan. Fakta bahwa acara ini berlangsung di Rumah Sakit St Bart's di London merupakan pengingat modern bahwa mumi melintasi banyak bidang pengalaman dari yang medis hingga yang mengerikan.
Saat ini, pasar gelap penyelundupan barang antik - termasuk mumi - bernilai sekitar US$3 miliar (Rp46 triliun).
Tidak ada arkeolog serius yang akan membuka mumi dan tidak ada dokter yang menyarankan untuk memakannya. Namun, daya tarik mumi tetap kuat. Mereka masih dijual, masih dieksploitasi, dan masih menjadi komoditas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Rahma Sekar Andini dari Universitas Negeri Malang menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris![]()
Marcus Harmes, Professor in Pathways Education, University of Southern Queensland
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!