Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

‘Demam Mumi' Melanda Eropa di Era Victoria, Mengapa Orang Eropa Makan Mumi Mesir?

📅 Minggu, 20 Agu 2023, 10:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
‘Demam Mumi' Melanda Eropa di Era Victoria, Mengapa Orang Eropa Makan Mumi Mesir? Doc: artrenewal.org
Ket. Pemeriksaan mumi oleh Paul Dominique Philippoteaux pada 1891.

Marcus Harmes, University of Southern Queensland

Mengapa orang berpikir bahwa kanibalisme baik untuk kesehatan mereka? Jawabannya memberikan gambaran sekilas tentang celah-celah paling mengerikan dalam sejarah Eropa, pada saat orang Eropa terobsesi dengan mumi Mesir.

Awalnya didorong oleh keyakinan bahwa jasad manusia yang ditumbuk dan diawetkan dapat menyembuhkan apa saja, mulai dari wabah pes hingga sakit kepala, dan kemudian oleh gagasan mengerikan orang-orang Victoria tentang hiburan setelah makan malam, mayat-mayat Mesir kuno yang dibalut dengan kain perban menjadi subjek yang menarik perhatian sejak Abad Pertengahan hingga abad ke-19.

Mumi mania

Kepercayaan bahwa mumi dapat menyembuhkan penyakit mendorong orang selama berabad-abad untuk memakan sesuatu yang rasanya mengerikan.

Mumia, produk yang dibuat dari tubuh mumi, adalah bahan obat yang dikonsumsi selama berabad-abad oleh orang kaya dan miskin, tersedia di toko-toko apotek, dan dibuat dari sisa-sisa mumi yang dibawa dari makam Mesir kembali ke Eropa.

Pada abad ke-12, apoteker menggunakan mumi yang digiling untuk mendapatkan khasiat obat tak biasa ini. Mumi adalah obat yang diresepkan selama 500 tahun berikutnya.



Di dunia tanpa antibiotik, para dokter meresepkan tengkorak, tulang, dan daging yang digiling untuk mengobati penyakit mulai dari sakit kepala hingga mengurangi pembengkakan atau menyembuhkan wabah.

Tidak semua orang yakin. Guy de la Fontaine, seorang dokter kerajaan, meragukan mumia sebagai obat yang berguna dan melihat mumi palsu yang dibuat dari petani yang sudah mati di Alexandria pada tahun 1564. Dia menyadari bahwa orang-orang bisa ditipu. Mereka tidak selalu mengkonsumsi mumi kuno yang asli.

Namun pemalsuan tersebut menggambarkan sebuah poin penting: ada permintaan konstan akan daging mati untuk digunakan dalam pengobatan dan pasokan mumi Mesir yang asli

Apoteker dan dukun masih masih memberikan obat mumi hingga abad ke-18.

Obat mumi

Tidak semua dokter berpikir bahwa mumi yang kering dan tua merupakan obat terbaik. Beberapa dokter percaya bahwa daging dan darah segar memiliki vitalitas yang tidak dimiliki oleh mumi yang sudah lama mati.

Klaim bahwa yang segar adalah yang terbaik meyakinkan bahkan para bangsawan yang paling mulia sekalipun. Raja Charles II dari Inggris meminum obat yang terbuat dari tengkorak manusia setelah mengalami kejang-kejang, dan, hingga tahun 1909, para dokter biasanya menggunakan tengkorak manusia untuk mengobati kondisi saraf.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...

Kemeriahan Gebyar PAUD Yogyakarta 2026

4 jam yang lalu | Fajar Alim M

Daerah
Kemeriahan Gebyar PAUD Yogy...
Megapolitan
Pelatihan Mengemudi Becak L...
Olahraga
Ganda Campuran Indonesia Ra...
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.