Obesitas di Indonesia Tinggi, Minuman Kemasan Mengintai Sejak Kanak-kanak
📅 Selasa, 01 Agu 2023, 11:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Antara/Fauzan
Marya Yenita Sitohang, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Dalam beberapa bulan terakhir, kita sering mendengar cerita dari media massa tentang beberapa orang dewasa yang obesitas meninggal lebih cepat dibandingkan rata-rata usia harapan hidup orang Indonesia.
Ibarat gunung es, kasus-kasus yang muncul ke permukaan itu hanya sebagian kecil dari jumlah kasus riil obesitas dan dampak buruknya bagi kesehatan masyarakat di Indonesia.
Data pemerintah yang diolah oleh UNICEF menunjukkan pada 2018, 1 dari 5 anak usia sekolah (20% atau 7,6 juta), 1 dari 7 remaja (14,8%, atau 3,3 juta) dan 1 dari 3 orang dewasa (35,5%, atau 64,4 juta) di Indonesia hidup dengan kelebihan berat badan atau obesitas. Jumlah ini sangat besar dan dapat berujung pada kerugian yang besar pula.
Obesitas merupakan faktor risiko tinggi untuk berapa penyakit tidak menular dan kerap kali konsekuensinya seumur hidup, seperti terkena penyakit diabetes, jantung koroner, stroke, dan sebagainya. Penyakit-penyakit tersebut cenderung menurunkan produktivitas dan menghabiskan biaya tinggi dalam pengobatannya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penyebab obesitas atau peningkatan berat badan yang tidak sehat ini cukup kompleks, utamanya karena konsumsi kalori harian berlebih yang terjadi secara terus menerus. Salah satunya melalui konsumsi minuman manis berlebih.
Risetnya belum banyak di Indonesia
Bahaya yang mengintai di balik minuman manis dalam kemasan sering kali luput dari perhatian banyak pihak. Peredaran produk minuman manis ini semakin meningkat dengan harga terjangkau bahkan bagi anak-anak.
Sebaiknya Anda baca juga:
Minuman manis yang murah meriah dan gampang diperoleh meningkatkan konsumsi minuman manis pada anak dan remaja yang merupakan salah satu faktor pemicu obesitas.
Beberapa studi di negara lain seperti Australia, Selandia Baru, Amerika, Inggris, Belanda, dan negara Eropa lainnya menyebutkan bahwa anak dan remaja mengonsumsi minuman manis lebih banyak daripada kelompok umur lainnya.
Riset di Indonesia juga menunjukkan bahwa konsumsi minuman manis di Indonesia cukup tinggi, memakan 67% dari total pengeluaran rumah tangga. Selain itu, setidaknya 2 dari 3 anak usia 3 tahun di Indonesia mengonsumsi satu minuman manis per hari.
Di beberapa daerah di Jakarta Timur dan Bandung, konsumsi minuman manis pada remaja mencapai 20% dari total kalori yang dikonsumsi, melebihi anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang hanya 10% per hari. Riset tersebut juga mengindikasikan adanya hubungan antara konsumsi minuman manis berlebih pada anak dan remaja Indonesia terhadap peningkatan kejadian obesitas pada orang dewasa.
Sayangnya, belum banyak penelitian di Indonesia yang mengkaji hubungan antara frekuensi mengonsumsi minuman manis pada anak-anak dengan kejadian obesitas dan penyakit tidak menular.
Oleh karena itu, saya melakukan kajian literatur terhadap riset di berbagai negara tentang dampak kesehatan dari mengonsumsi minuman manis dalam kemasan pada anak-anak. Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi minuman manis berlebih dapat menyebabkan obesitas, gejala hipertensi, risiko penyakit jantung, dan diabetes melitus.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!