Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

5 Alasan Restorasi Lamun di Indonesia Layak Jadi Solusi Perubahan Iklim

📅 Selasa, 18 Jul 2023, 11:55 WIB | Oleh: Tim Penulis

Para peneliti memperkirakan kawasan lamun Indonesia mencapai 875 ribu ha, tapi hanya 294 ribu ha yang sejauh ini sudah divalidasi.

Berdasarkan studi terbaru dari peneliti berbagai negara, padang lamun di Indonesia ditaksir menyimpan 368.5 Tera gram Karbon atau 2% simpanan karbon di lingkungan pesisir dan laut global.

Hasil studi tersebut membuat padang lamun kita sangat penting untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sekaligus memperlambat laju perubahan iklim.

Indonesia memiliki target pengurangan emisi nasional sebesar 31,8-43,2% pada 2030. Target ini masih bisa ditingkatkan apabila pemerintah memasukkan aksi pelestarian dan pemulihan ekosistem lamun dalam target iklim Indonesia.

Sebaliknya, jika tidak ada aksi pelestarian dan pemulihan yang masif, penurunan luasan habitat lamun sebesar 2-5% per tahun bisa terjadi di Indonesia.

3. Program berskala luas dan melibatkan banyak lembaga

Seperti halnya program restorasi gambut yang diterbitkan Presiden Joko Widodo sejak 2016,] program restorasi lamun seyogianya memungkinkan anggaran khusus perlindungan lamun, dilaksanakannya kebijakan pengelolaan lamun di tingkat pusat maupun daerah, dan peningkatan sumber daya manusia serta penelitian terkait. Program restorasi juga dapat dilakukan dengan skala yang lebih luas dengan dukungan anggaran dari pemerintah.

Program restorasi ekosistem padang lamun dapat mendorong koordinasi yang lebih baik antarlembaga. Di Indonesia, sejak 36 tahun silam baru ada 22 proyek restorasi lamun. Pelaksanaannya tersebar di banyak lembaga, tapi terbatas di suatu area. Efektivitasnya pun tidak terpantau.

Di sisi lain, koordinasi dari berbagai pemangku kepentingan sangat dibutuhkan karena restorasi padang lamun membutuhkan kerjasama dari berbagai bidang ilmu keahlian dan dukungan dari berbagai lembaga pemerintah agar tercipta suatu program konservasi lingkungan yang berkelanjutan.

Indonesia dapat belajar dari Australia. Melalui koordinasi yang apik, Negeri Kangguru ini sukses memulihkan lamun tak hanya dengan menanam kembali, tapi juga memfokuskan interaksi antarspesies penghuni kawasan lamun dan hubungannya dengan ekosistem lainnya seperti mangrove.

Koordinasi antarlembaga, selain untuk menyukseskan pemulihan lamun, juga bisa diselaraskan untuk memenuhi program lainnya seperti pencegahan bencana. Lamun dapat menjadi sistem pendukung yang membantu infrastruktur fisik seperti tanggul untuk mencegah abrasi ataupun erosi.

4. Program ekonomis tapi berdampak

Pemulihan lamun yang mencakup perencanaan, penanaman, pemantauan, dan sebagainya diperkirakan memakan biaya sekitar US$700 ribu (Rp10,4 miliar ) per ha. Angka ini jauh lebih murah dibandingkan ongkos restorasi karang sekitar US$3 juta (Rp44,9 miliar) per ha.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.