Situs Liyangan, Kompleks Pemukinan Kuno yang Terkubur Material Vulkanik
📅 Sabtu, 08 Jul 2023, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoDitemukan juga perkakas rumah tangga, berupa gerabah, fragmen keramik dari Tiongkok berupa pecahan guci kuno dari zaman Dinasti Tang yang berkuasa pada abad ke-9 atau abad ke-10. Ditemukan juga satu buah lonceng yang terbuat dari perunggu, yang diperkirakan fungsinya untuk mengumpulkan warga.
Area peribadatan paling menonjol di Situs Liyangan yang meliputi bangunan bangunan berbahan batu seperti candi, struktur batur-batur, dan petirtaan. Berdasarkan rentang kronologis, Situs Liyangan yang panjang menjadi tempat hidup peradaban dari era pra-Hindu hingga era Hindu masa Kerajaan Mataram kuno.
Unsur unsur pra-Hindu tampak dari bentuknya yang berundak teras. Hasil penelitian, sampai saat ini ditemukan empat teras atau dapat pula disebut halaman. Unsur pra-Hindu adalah dominasi struktur berbahan batu besar (boulder) dan ditemukannya arca tipe Polinesia.
Sementara itu area pertanian berada di sisi area sisi barat dan selatan diluar area pemujaan yang dilengkapi dengan struktur-strukturbouldersebagai penguat dinding lahan, sekaligus sebagai batas lahan. Temuan itu didasarkan pada jejak-jejak yang ditemukan meliputi bentuk lahan, sistem pengairan, peralatan pertanian, dan temuan temuan tumbuhan dan bahan panganan dalam bentuk arang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu di sana juga ada yoni pipih bundar berdiameter 2 meter yang berperan sebagai jantung pertanian kuno karena berada di tempat yang paling tinggi. Yoni itu juga diduga sebagai pusat tempat upacara sebelum bertani.
Dalam periode Hindu-Buddha, peradaban Liyangan memang beriringan dengan tumbuh dan berkembangnya Kerajaan Mataram kuno, khususnya di masa Rakai Watukura Dyah Balitung dan Rakai Layang Dyah Tlodhong atau Tulodong. Rakai Watukura Dyah Balitung dikaitkan dengan Prasasti Rukam (907 M) yang ditemukan di Desa Parakan, Temanggung.
Dalam prasasti itu ada bagian yang dikaitkan dengan Situs Liyangan yaitu "Wanua i rukam wanua wanua i drio sanka yan hilan deni guntur". Artinya dari prasasti itu adalah "Desa Rukam yang termasuk wilayah Kutanagara atau negeri ageng, telah hancur oleh letusan gunung".
Sebaiknya Anda baca juga:
Situs Liyangan yang terkubur material vulkanis itulah yang selalu dikaitkan dengan prasasti tersebut. Namun hal ini masih diperlukan penelitian lebih lanjut. Ditemukannya bagunan dalam posisi terkubur material gunung api kemungkinan telah mendukung prasasti itu.
Bukti lain dari, terkubur letusan Gunung Sindoro adalah ditemukannya biji-biji padi yang sudah hangus menjadi arang. Hangusnya padi tersebut diperkirakan karena lahar panas dari erupsi Gunung Sindoro yang sampai ke pemukiman kuno.
Tidak ditemukannya kerangka manusia yang terkubur letusan Gunung Sindoro kemungkinan masyarakat sudah mengungsi sebelum bencana datang. Oleh karenanya masyarakat Liyangan disebut telah memiliki pengetahuan tentang mitigasi bencana. Sehingga sebelum gunung itu meletus, mereka telah menyelamatkan diri mereka, harta dan hewan ternak mereka untuk mengungsi ke daerah lain.
Prasasti Rukam menyebutkan juga Dyah Tlodhong dikaitkan dengan Liyangan karena sebutan gelarnya yaitu Raka i Layang. Kemungkinan Daksa mengangkat Tlodhong sebagai putra mahkota setelah mengalahkan Balitung (908 M). Pada waktu itu Tlodhong menjadi penguasa daerah Layang yang mungkin juga lebih dikenal sebagai daerah layangan.
Secara linguistik, kata "layangan" dan "liyangan" sangat dekat dan menjadi pertimbangan untuk mengatakan bahwa Liyangan adalah layang, daerah yang menjadi tempat asal Dyah Tlodhong. Jika hal ini benar, maka Situs Liyangan merupakan daerah Watak yang salah satu penguasanya Dyah Tlodhong, salah satu raja Mataram menggantikan Pu Daksa, setidaknya sejak 919 M hingga 928 M. hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!