Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Mengapa Orang Super Kaya Suka Ambil Risiko Lebih Tinggi? Ini Hasil Risetnya

📅 Sabtu, 08 Jul 2023, 10:07 WIB | Oleh: Tim Penulis
Mengapa Orang Super Kaya Suka Ambil Risiko Lebih Tinggi? Ini Hasil Risetnya Doc: The Conversation/Shutterstock/Amnat Phomuang
Ket. Kapal selam Titan kerap membawa mereka yang berduit menjelajahi bangkai kapal Titanik di Samudra Atlantik.

Nigel Holt, Aberystwyth University

Seperti kebanyakan orang, saya menyaksikan terungkapnya tragedi kapal selam Titan dengan perasaan ngeri. Kami membicarakannya di kafe, spontan mengecek berita yang masuk ke ponsel kami, dan bertanya-tanya mengapa ada orang yang benar-benar membayar untuk mengalami risiko seperti itu.

Apakah miliarder seperti ini pada akhirnya memang hanya narsistik atau bodoh? Apakah perilaku sembrono mengambil risiko sudah ada dalam DNA mereka?

Ternyata ada banyak penelitian yang mencakup sejumlah bidang psikologi tentang mengapa orang kaya suka mengambil risiko. Satu riset, diterbitkan di jurnal Nature, menyelidiki bagaimana kepribadian 1.125 orang di Jerman dengan kekayaan bersih minimal €1 juta (Rp 16,3 miliar) - tidak semua orang ini masuk kategori "super kaya" - berbeda dari kita semua.

Riset tersebut menunjukkan bahwa orang-orang dengan pendapatan yang relatif lebih tinggi ini biasanya ekstrover dan, yang terpenting, toleran terhadap risiko. Ini berarti mereka mungkin memang lebih tertarik mencari sensasi dan mengambil risiko, dalam hal petualangan dan olahraga ekstrem.

Namun, sebagai seorang ahli, yang saya pikirkan kemudian adalah tentang teka-teki ayam dan telur. Mana yang lebih dulu? Kekayaan besar atau terbentuknya kepribadian spesifik tersebut? Apakah uang membentuk kepribadian, atau apakah kepribadian memungkinkan orang tersebut mengembangkan kekayaannya?

Jawabannya adalah sedikit dari keduanya. Kepribadian mengambil risiko kemungkinan besar dapat membantu kamu menghasilkan uang. Namun, ketika kamu telah memperoleh kekayaan yang sangat besar, kemungkinan besar kamu juga merasakan banyak keamanan dalam hidupmu - kamu tidak perlu khawatir mau makan apa, atau apakah kamu mampu menghangatkan diri di rumah ketika musim dingin. Beberapa mungkin mengalami ini dengan perasaan hidup mereka sedikit "terlalu aman".

Sosiolog Prancis, Pierre Bordieau berpendapat bahwa cara kita berada di dunia ini - atau "habitus" kita - adalah bagian dari diri kita. Orang-orang dari budaya yang berbeda atau yang memiliki sejarah tertentu cenderung berbagi habitus - artinya kehidupan bermasyarakat pada akhirnya dapat membentuk pola pikir seseorang.

Ambil contoh tentang berapa banyak uang yang kita miliki. Orang kaya tidak menganggap mobil sport sebagai hal yang di luar jangkauan - lebih sebagai ide terkait barang apa yang bisa mempercantik parkiran rumah mereka. Kekayaan mereka secara sebagian membentuk pandangan mereka tentang dunia dan bagaimana mereka hidup di dalamnya. Jika mengambil risiko adalah bagian dari kepribadian orang kaya, itu akan menjadi pengalaman yang relatif normal dalam keterlibatan mereka sehari-hari dengan dunia.

Meski demikian, penelitian juga menunjukkan bahwa kepribadian tidak terpaku (tidak tetap) - kepribadian berubah sepanjang hidup seiring dengan pengalaman-pengalaman kita. Misalnya, pengalaman baru dalam hidup, seperti pindah ke universitas atau memiliki anak, dapat mengubah pandanganmu terhadap dunia sedemikian rupa sehingga kepribadian dan caramu berinteraksi dengan dunia juga berubah.

Jika kamu mengambil banyak risiko dalam kehidupan sehari-hari, ini menjadi cerminan dari hal-hal yang membentuk jati dirimu. Ini kemudian meningkatkan kepribadian "pengambil risiko", yang membuatmu mengambil risiko lebih banyak, dan seterusnya. Ini mungkin menjelaskan mengapa banyak orang kaya akhirnya menjadi pengambil risiko, entah itu ada dalam gen mereka atau tidak.

Hidup dengan otentik

Orang kaya mungkin memandang pengambilan risiko agak berbeda dengan cara pandang kita, seperti saya, yang menganggap diri kita itu cenderung menghindari risiko (risk averse).

Kegiatan yang berbahaya, bagi saya, itu tidak cocok dengan gaya kepribadian saya sendiri. Jadi, jika kemudian saya terlibat dalam sesuatu yang berpotensi berisiko, di luar pengalaman habitus normal saya, saya merasa sangat tidak nyaman. Untuk para penghindar risiko, mantra "menjalani hidup dengan sepenuhnya" (living life to the fullest) tidak berarti harus mencoba olahraga lompat dari titik ketinggian (base jumping) atau pendakian bebas - ini semua tidak sesuai dengan pengalaman mereka.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Siswa Bermasalah Tak Layak Menerima Bantuan Biaya Sekolah

17 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Siswa Bermasalah Tak Layak ...

Haree Gini Masih Buang Sampah Sembarangan…Bakal Masuk Bui

22 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Haree Gini Masih Buang Samp...
Megapolitan
Truk Trailer Alami Kecelaka...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
Crysencio Summerville
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.