Pemimpin Harus Memiliki Roh Pancasila
📅 Selasa, 04 Jul 2023, 00:02 WIB | Oleh: Eko S
Doc: ISTIMEWA
JAKARTA - Nilai-nilai luhur Pancasila harus dijadikan roh dalam pengaplikasian setiap kebijakan guna kemajuan bangsa dan negara. Pancasila itu bukan hanya sekadar hiasan belaka, melainkan harus dijadikan roh dalam tindak tanduk setiap orang.
"Kalau pemimpin memiliki roh Pancasila, dia akan mencintai rakyat dan memperhatikan kebijakan-kebijakan untuk rakyatnya," tutur pakar komunikasi politik, Antonius Benny Susetyo, di Jakarta, Senin (3/7).
Menurut Benny, yang juga seorang budayawan itu menyampaikan, selain harus berjiwa Pancasila, seorang pemimpin dikatakan juga harus memiliki jiwa kerahiman agar bertindak welas asih, berkata dengan bijak, dan menjaga roh kesatuan bangsa.
Tantangan ke depan, seorang pemimpin haruslah memiliki jiwa pelayan, mengacu pada nilai Pancasila yang membutuhkan pemimpin berjiwa kerahiman, berjiwa terbuka, dan pemimpin yang mau belajar dan selalu rendah hati.
"Kerahiman itu pula yang menuntun jiwa seorang yang kredibel dalam kasih dan yang bisa menunjukkan kasihnya kepada mereka yang miskin, tersisih, dan lemah," ucapnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sekretaris Dewan Nasional Setara Institute itu juga mengatakan orientasi pemimpin berjiwa kerahiman itu meskipun tidak sempurna atau mendekati sempurna, yang terutama ialah pemimpin yang dekat dengan rakyatnya dan memiliki belas kasih serta yang terpenting juga adalah dia yang mau merangkul lawan politiknya dan membangun kebersamaan.
Tanggapi Butet
Benny menanggapi pantun seorang Budayaawan bermana Butet Kertaredjasa yang turut hadir dalam puncak perayaan Bulan Bung Karno di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (24/06/23).
Sebaiknya Anda baca juga:
"Catatan Butet ini mungkin menarik untuk kita kaji secara mendasar, karena apa yang dikatakan Butet Kertaredjasa adalah dia menginginkan dalam demokrasi kepemimpinan ke depan itu jangan cari pemimpin yang transaksional, jangan cari pemimpin yang ada beban masa lalu, tapi carilah pemimpin yang berani untuk bekerja bersama rakyat," jelasnya.
Bagi Benny, pantun Butet itu menunjukkan bagaimana Butet membaca realitas politik terhadap apa yang akan dipilih oleh Jokowi. "Butet meyakini jagoannya yang berambut putih secara simbolik akan di-endorse oleh Presiden Jokowi. Meskipun secara simbolik, Pak Jokowi tidak secara benderang meng-endorse salah satu calon siapa presiden itu," ujarnya.
Benny menilik dalam bahasa Gusdur atau bahasa mimik, serta bahasa komunikasi bahwa Jokowi tidak bisa melepaskan diri dari ikatan partai yang membesarkannya. Menurutnya, Jokowi akan memilih pemimpin yang punya integritas baik seperti dalam pantun Butet.
"Meskipun katanya bersayap, berjuang bersama-sama memenangkan Pak Ganjar Pranowo dan PDIP, sebenarnya secara simbolik Pak Jokowi ke depannya memang akan memilih alternatif apa yang dikatakan oleh Butet, bukan pemimpin yang transaksional, tetapi juga pemimpin yang punya integritas dan tidak ada masalah di masa lalunya," pungkasnya.
Menurut Benny, pertarungan ruang publik antara panggung belakang dan panggung depan perpolitikan saat ini adalah pertarungan perebutan wacana simbol. Simbol dikatakan sangat penting dalam mempengaruhi keputusan politik yang akan diambil.
"Misalnya simbol pertemuan para partai-partai yang hari ini hadir bersama memperingati ulang tahun PDIP, itu mengisyaratkan memang akan ada kejutan-kejutan di dalam politik, karena dalam politik yang seperti sekarang ini tidak ada kekuatan politik yang dominan," ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!