Gerakan Konservasi ‘Spesies Terlupakan’ Berbasis Akar Rumput Bermunculan
📅 Senin, 26 Jun 2023, 11:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation
Sheherazade, University of California, Berkeley
Beberapa dekade silam, mayoritas topik konservasi atau pelestarian spesies satwa Indonesia berfokus pada harimau, gajah, badak, dan orangutan (dijuluki The Big Four).
Keempat satwa ini memang penting lantaran keberadaan mereka sebagai spesies payung (umbrella species) dapat melindungi ekosistem dan spesies-spesies lain. Keempatnya juga menjadi spesies unggulan (flagship species) yang berhasil meningkatkan kesadaran khalayak tentang keanekaragaman hayati dan menggalang dukungan untuk konservasi.
Namun, ketimpangan perhatian konservasi dapat mengabaikan keberadaan spesies lainnya yang berada dalam tingkat keterancaman serupa. Beberapa di antaranya adalah kelelawar sulawesi, ikan rono di Poso, hingga hiu tikus di Nusa Tenggara Timur.
Di antara 'spesies terlupakan' ini, banyak pula spesies endemik Indonesia yang tidak dapat ditemukan di tempat lain di dunia. Mereka juga berperan penting untuk ekosistem dan perekonomian masyarakat. Contohnya adalah kelelawar yang menyerbuki durian-buah bernilai ekonomi tinggi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Minimnya riset, keterbatasan pendanaan, dan program perlindungan menjadi tantangan. Jika tidak diatasi, spesies terlupakan berisiko punah bahkan tanpa kita sadari.
Untungnya, tantangan ini berbalas angin segar. Beberapa tahun belakangan, berkat kerja sama masyarakat dengan ilmuwan, gerakan-gerakan konservasi spesies terlupakan berbasis akar rumput mulai bermunculan.
Gerakan ini dipimpin oleh kalangan ilmuwan dan praktisi konservasi muda Indonesia. Kini, aksi pelestarian spesies-spesies yang dahulu dianggap 'tak seksi' satu per satu muncul di publik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Gerakan konservasi spesies terlupakan
Pada 2019, saya bersama kolega pegiat konservasi, Asnim Alyoihana Lanusi, membentuk PROGRES (Prakarsa Konservasi Ekologi Regional Sulawesi,). Melalui PROGRES, kami berusaha menganyam pendekatan sains dan masyarakat untuk konservasi di Sulawesi.
PROGRES merupakan lanjutan dari penelitian kelelawar (dalam bahasa lokal disebut poniki) yang kami rintis dua tahun sebelumnya di Pulau Mantawalu Daka, Kabupaten Banggai. Dalam gerakan ini, kami bersama nelayan dan pemuda setempat memantau dan mengupayakan pelestarian poniki.
Kami juga melakukan gerakan edukasi masyarakat seputar pentingnya poniki dan pencegahan perburuan. Poniki berukuran besar seperti poniki itam (Pteropus alecto), poniki abu (Pteropus griseus), dan poniki sulawesi (Acerodon celebensis) yang bersarang di pulau sudah lama terancam karena perburuan intens.
Di PROGRES, saya sebagai ilmuwan bertanggung jawab pada pendekatan berbasis sains. Pendekatan ini memungkinkan pelaksanaan riset yang bisa mengisi celah pengetahuan tentang spesies terlupakan (seperti jasa ekosistem, status populasi dan level keterancaman).
Saya juga bertanggung jawab atas desain program konservasi yang tepat, meningkatkan kapasitas riset pemuda setempat, hingga mengetahui capaian kesuksesan konservasi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!