Gerakan Konservasi ‘Spesies Terlupakan’ Berbasis Akar Rumput Bermunculan
📅 Senin, 26 Jun 2023, 11:30 WIB | Oleh: Tim PenulisSementara itu, sebagai praktisi konservasi berpengalaman, Asnim (akrab disapa Anim) memastikan keberlangsungan program konservasi di lapangan dan peningkatan kapasitas kepemimpinan masyarakat. Anim juga piawai melakukan kampanye, termasuk membuat materi buku cerita anak dan poster.
Selama hampir enam tahun, upaya kami bersama warga membuahkan hasil. Masyarakat di desa sudah tidak membiarkan pemburu kelelawar datang. Jumlah kelelawar pun jauh meningkat, dari hanya 300 individu pada 2018, saat ini menjadi sekitar 48 ribu individu.
Peningkatan populasi membawa berkah. Nelayan melaporkan bahwa ikan semakin banyak dan mudah ditemui. Dugaan kami kotoran kelelawar yang mengandung mineral yang terbukti memupuk tanaman tersapu ke laut di sekitar pulau dan lambat laun menyuburkan ekosistem lamun. Kawasan lamun adalah 'taman berkembang' (nursery ground) ikan-ikan kecil yang menjadi tulang punggung aktivitas perikanan setempat.
Selain kelelawar, beberapa spesies yang kami jangkau misalnya use (kuskus talaud atau Ailurops melanotis yang berstatus Terancam Punah Kritis). Ada juga bantiluku (baning sulawesi atau Indotestudo forstenii berstatus Terancam Punah Kritis).
Sebaiknya Anda baca juga:
Kami berharap pendekatan sains dan masyarakat (sesuai konteks daerah masing-masing) bisa melengkapi berbagai program konservasi yang sudah ada.
PROGRES pun tidak sendirian. Gerakan konservasi hasil kolaborasi ilmuwan dan masyarakat bermunculan di berbagai wilayah di Indonesia. Tengok saja usaha konservasi hiu tikus pelagis (Alopias pelagicus) oleh lembaga Thresher Shark Indonesia di Alor; NTT.
Usaha konservasi landak ekidna moncong panjang Sir David (Zaglossus attenborough) juga dilakukan oleh kelompok KONKLUSI di Pegunungan Cycloop; Papua. Ada juga gerakan konservasi pohon magnolia endemik Sulawesi--bernama bakankara-(Cryptocarya crassinerviopsis) oleh lembaga Celebica.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mengubah tantangan menjadi peluang
Berdasarkan pengalaman saya, upaya memulai konservasi spesies terlupakan tidaklah mudah. Pasalnya, bukti saintifik mengenai status populasi, peran ekologi, hingga level keterancaman yang dialami masih kurang. Keterbatasan informasi membuat urgensi perlindungan spesiesnya tidak diketahui. Narasi pentingnya upaya konservasi spesies terlupakan pada akhirnya tidak mudah dibangun.
Untungnya, para ilmuwan muda melihat tantangan ini bukan sebagai faktor penghambat melainkan peluang untuk mengisi kekosongan pengetahuan.
Dalam gerakan akar rumput yang bermunculan, penelitian menjadi komponen kegiatan utama. Misalnya, Thresher Shark Indonesia meneliti habitat krisis dan tren populasi hiu tikus. Hasil studi ini menjadi informasi penting bagi pengelolaan ekosistem laut pemerintah Alor dan NTT.
Tantangan berikutnya: sebagian besar spesies terlupakan tidak termasuk ke dalam daftar dilindungi. Beberapa spesies pun memiliki wilayah sebaran di luar kawasan konservasi.
Namun, gerakan akar rumput mengubah tantangan ini sebagai peluang untuk mendesain program yang memungkinkan spesies hidup harmonis di wilayah milik masyarakat. Gerakan ini pun menjadi simpul gotong royong ilmuwan dan warga bersama pemerintah daerah atau instansi lainnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!