Perlukah Indonesia Jadi Anggota BRICS? Ini Peluang dan Tantangannya
📅 Kamis, 15 Jun 2023, 13:00 WIB | Oleh: Tim PenulisBRICS sendiri lahir sebagai forum kekuatan menengah yang terus berkembang dan hadir menawarkan wacana alternatif terhadap dominasi Barat dalam tatanan global. Organisasi ini tengah berusaha untuk menyeimbangkan kekuatan dunia dan memberi ruang bagi negara berkembang untuk terlibat dalam mengubah peta politik global.
Keberhasilan BRICS dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang signifikan dan melampaui G7 juga mencerminkan upaya mereka dalam memperkuat kerja sama ekonomi dan perdagangan di antara anggotanya.
BRICS telah mengembangkan berbagai inisiatif seperti New Development Bank (NDB) dan Cadangan Kontingensi Keuangan (CRA) guna mendukung pembangunan infrastruktur dan memperkuat stabilitas keuangan di negara-negara anggotanya.
Selain itu, BRICS juga memainkan peran penting dalam memperkuat posisi negara-negara anggotanya dalam tatanan ekonomi global. Mereka telah berusaha untuk memengaruhi kebijakan di forum-forum internasional, seperti Group of 20 (G20) dan IMF agar lebih memperhatikan kepentingan negara-negara berkembang, dan memperluas peran mereka dalam pengambilan keputusan global.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tidak sekokoh yang dibayangkan
Meskipun BRICS telah mencapai keberhasilan dalam pertumbuhan ekonomi dan memengaruhi tatanan global, mereka masih dihadapkan pada berbagai tantangan. Salah satu tantangan eksternalnya adalah "perang dagang" antara Cina dan AS yang telah memengaruhi stabilitas ekonomi global secara luas.
Secara internal, tantangannya adalah masih terdapat beragam perbedaan terkait kebijakan dan pendekatan ekonomi antara anggota BRICS. Ini bisa menjadi hambatan bagi mereka untuk mencapai tujuan bersama. Contohnya adalah perseteruan antara Cina dan India yang diawali oleh bentrokan yang terjadi di perbatasan kedua negara tahun 2020. Persaingan ekonomi antara Afrika Selatan, Brasil, dan Rusia juga menjadi pertanyaan tentang kemampuan BRICS untuk membentuk kekuatan yang bersatu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Jika BRICS ingin memperluas keanggotaannya, ini juga akan membawa tantangan tersendiri, terutama dalam hal koordinasi dan pengelolaan internal.
Di satu sisi, misalnya, negara produsen minyak dunia seperti Arab Saudi, Iran, Aljazair dan Venezuela, yang disebut telah mendaftar menjadi anggota BRICS, akan mampu menambah kekuatan ekonomi bagi organisasi ini.
Di sisi lain, bila negara-negara tersebut bergabung dengan BRICS, bisa jadi akan timbul masalah hukum dan politik yang kompleks.
Contohnya, Iran dengan program nuklirnya yang sangat ditentang AS bisa saja menarik anggota BRICS lainnya ke dalam konflik geopolitik yang lebih besar. Venezuela, yang juga dijatuhi rangkaian sanksi oleh AS, termasuk embargo minyak, dan mengalami krisis ekonomi, dapat menimbulkan ketidakstabilan dalam blok ini.
Sementara Arab SaudiArab Saudi dan Aljazair memiliki sejarah pelanggaran HAM. Ini akan menjadi catatan yang dipertanyakan dan dikhawatirkan akan menciptakan ketegangan dengan anggota BRICS lainnya yang memiliki norma dan standar HAM yang berbeda.
Situasi-situasi tersebut berpotensi merusak reputasi dan kerja sama BRICS, serta memicu lebih banyak konflik dengan negara-negara Barat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!