Gadis Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif yang Lulus Cumlaude
📅 Selasa, 06 Jun 2023, 00:04 WIB | Oleh: Marcellus Widiarto
Doc: Istimewa
YOGYAKARTA - Wanita yang menyukai dunia otomotif tidak banyak, karena jurusan ini identik dengan dunia laki-laki. Namun hal itu tidak berlaku bagi Priti, gadis Pedukuhan Gesikan, Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul.
Dia memilih kuliah di prodi Pendidikan Teknik Otomotif Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) karena kesukaannya akan hal-hal berbau kendaraan bermotor. Priti memang menyukai dunia otomotif sejak kecil.
"Saya suka melihat bapak saya membengkel. Praktik pertama kali yang diingat adalah saat SD saya bisa untuk memperbaiki rantai sepeda baik milik sendiri maupun teman. Tambal ban motor merupakan kegiatan yang sering saya lakukan," ungkapnya, Senin (5/6).
Priti juga sering membantu bapaknya ketika mengcustom Harley Davidson maupun memperbaiki mobil. Baginya kendaraan trouble atau mogok bukan hal yang menakutkan malah kadang terasa asyik serta harus bisa mendiagnosis permasalahan dan berani untuk mendorong kendaraan menepi. Priti merupakan anak kembar. Kembarannya, Kindi, sedang kuliah di salah satu universitas swasta di Yogyakarta.
Menurut siaran persnya, alumni SMKN 2 Yogyakarta itu memaparkan, sejak kelas 1 di jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR) diniatkan untuk selalu mendapatkan rangking agar mempermudah memasuki jalur SNMPTN.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Alhamdulillah saya bisa masuk UNY melalui jalur SNMPTN di kelas A1 JPTO (Jurusan Pendidikan Teknik Otomotif)," katanya.
Kelas kecil A1 memiliki 3 mahasiswa perempuan yang semua berasal dari SMK. Namun secara keseluruhan JPTO S1 angkatan 2019 memiliki 9 mahasiswa perempuan.
Gadis kelahiran Bantul 20 Februari 2001 itu mengatakan sejak semester satu pengetahuan dan skill sudah harus ditunjukkan karena dalam kelas A dengan persaingan akademik sangat ketat.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Saya masih ingat dulu ketika praktik pengelasan. Banyak teman laki-laki yang menganggap saya tidak bisa dengan skill tersebut bahkan teman perempuan juga menganggap saya sama dengan mereka yang tidak bisa pengelasan. Namun saya dengan sangat mudah menyelesaikan job pengelasan baik asetilin dan listrik. Hal ini karena saya sudah terbiasa mengelas di rumah, bahkan seperti mengulangi praktik saya di SMK dulu," ujar Priti.
Pernah juga pada saat ujian praktik mengganti distributor di mana dosen dan teman-teman meragukannya sebagai perempuan dapat mengatasinya, tapi Priti membuktikan dalam ujian tersebut dan berhasil, karena di SMK baik praktik maupun ujian lebih berat daripada di JPTO.
Saat pandemi Covid pembelajaran praktik tetap dilakukan dengan cara melakukan praktik pada benda objek di luar kampus.
"Karena di rumah saya memiliki kendaraan dan perlengkapan bengkel yang lengkap saya tidak merasa kesulitan mengerjakan tugas tersebut. Namun terdapat tugas yang mewajibkan dilakukan di bengkel ternama, saat itu saya ke bengkel Jogja DAB untuk memenuhi tugas body kendaraan," paparnya.
Di sana pun para mekanik juga heran ada perempuan di otomotif. Pihak bengkel dan para karyawan sangat terbuka dan menerima mahasiswa untuk belajar. Awalnya mekanik tidak berani memberikan alat poles untuk dicoba oleh Priti. Tetapi setelah diyakinkan jika bisa, Priti diperbolehkan dan mulai memoles kendaraan dengan hasil yang baik.
Priti juga mengikuti Uji Kompetensi agar mendapatkan sertifikat. Saat itu ujiannya pada bidang rem tromol dan cakram dengan waktu 30 menit. Akhirnya Priti mendapatkan sertifikat tersebut dan tidak kalah dengan mahasiswa laki laki yang lain.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!