Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Beban 'Hutan Beton' Tenggelamkan Kota New York

📅 Senin, 05 Jun 2023, 06:10 WIB | Oleh:
Beban 'Hutan Beton' Tenggelamkan Kota New York Doc: Istimewa

Seperti halnya Jakarta, Manila, Chittagong, Karachi, dan Tianjin, New York saat ini sedang mengalami penurunan. Penyebabnya tanah di kota ini tenggelam utamanya karena beban dari bangunan bertingkat yang beratnya mencapai 762 juta ton, di samping kenaikan permukaan air laut.

Pada 27 September 1889, para pekerja memberikan sentuhan akhir pada The Tower Building di Kota New York, Amerika Serikat (AS). Bangunan 11 lantai pertama itu dianggap gedung pencakar langit pertama di kota itu berkat struktur rangka bajanya. Bangunan tersebut sudah dirobohkan pada 1914, tetapi pendiriannya menandai dimulainya pesta konstruksi yang masih belum berhenti sampai kini.

Saat ini area seluar 777 kilometer persegi kota itu dipadati oleh gedung dengan berat 762 juta ton atau 1,68 triliun pon beton, kaca dan baja, menurut perkiraan para peneliti di United States Geological Survey (USGS). Berat itu belum termasuk termasuk perlengkapan, dan furnitur di dalam jutaan bangunan itu. Juga tidak termasuk infrastruktur transportasi yang menghubungkan mereka, maupun 8,5 juta orang yang menghuninya.

Semua bobot itu memiliki efek luar biasa pada lahan tempat gedung pencakar langit itu dibangun. Lahan itu, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan pada Mei, tenggelam 1-2 milimeter per tahun, sebagian karena tekanan yang diberikan oleh bangunan kota di atasnya.

Hasil penelitian menyatakan kombinasi penurunan tanah dan kenaikan permukaan laut, dan kenaikan permukaan laut relatif adalah 3-4 milimeter per tahun. Kedengarannya tidak banyak, tetapi selama beberapa tahun hal itu menambah masalah yang signifikan bagi kota pesisir.

New York telah mengalami penurunan sejak akhir zaman es terakhir. Terbebas dari beban lapisan es, beberapa daratan di Pesisir Timur meluas, sementara bagian lain dari daratan pesisir, termasuk bongkahan di mana Kota New York terletak, tampaknya sedang menetap.

"Relaksasi itu menyebabkan penurunan," kata Tom Parsons, seorang ahli geofisika penelitian di Pusat Ilmu Pesisir dan Kelautan Pasifik USGS di Moffett Field, California, dan salah satu dari empat penulis studi tersebut, seperti dikutipBBC. "Tapi bobot yang sangat besar dari lingkungan sekitar kota memperburuk penurunan ini," kata dia.

Masalah ini bukan monopoli Kota New York, namun telah menjadi fenomena global. Kota New York, kata Parsons, dapat dilihat sebagai perwakilan dari kota-kota pesisir lainnya di AS dan dunia yang memiliki populasi yang terus bertambah dari orang-orang yang bermigrasi ke kota tersebut, yang terkait dengan urbanisasi, dan yang menghadapi kenaikan permukaan air laut.

Ada berbagai alasan mengapa kota-kota pesisir tenggelam, tetapi infrastruktur manusia yang menekan daratan memainkan peran. Skala infrastruktur ini sangat luas karena pada tahun 2020 saja massa objek buatan manusia sudah melampaui semua biomassa hidup.

Ekstraksi Air Tanah

Adakah yang bisa dilakukan untuk menghentikan kota-kota ini yang di antaranya berpenduduk ratusan juta agar tidak tenggelam ke laut? Beberapa kota di seluruh dunia seperti Jakarta, ibu kota Indonesia, tenggelam jauh lebih cepat dari yang lain.

"Di beberapa kota, kami melihat penurunan beberapa sentimeter per tahun," kata Steven D'Hondt, profesor oseanografi di University of Rhode Island di Narragansett. Pada tingkat ini, kota tenggelam jauh lebih cepat daripada permukaan laut yang naik untuk menghadapinya. "Kita harus meningkatkan pencegahan pencairan es dengan urutan utamanya agar sesuai dengan itu," ucap D'Hondt.

Selain menjadi salah satu penulis studi New York, D'Hondt adalah salah satu dari tiga penulis studi tahun 2022 yang menggunakan citra satelit untuk mengukur tingkat penurunan muka tanah di 99 kota pesisir di seluruh dunia.

"Jika penurunan muka tanah berlanjut dengan laju baru-baru ini, kota-kota ini akan ditantang oleh peristiwa banjir besar lebih cepat dari yang diproyeksikan," tulis D'Hondt dan rekannya Pei-Chin Wu dan Matt Wei, keduanya dari University of Rhode Island.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Olahraga
Iran Membidik Langkah Berse...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.