Kronisme adalah Sumber Ketimpangan Sosial
📅 Senin, 29 Mei 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim RedaksiPara elite seharusnya mengedepankan seruan-seruan damai, berpolitik dengan kredibel, karena ruang untuk menjalankan itu sangat terbuka. "Kita harus koreksi dari sebelum-sebelumnya, agar Pemilu 2024 menjadi harapan, bukan sebaliknya menciptakan pembelahan," kata Arie.
Secara terpisah, Peneliti Pusat Riset dan Pengabdian Masyarakat (PRPM) Institut Shanti Bhuana - Bengkayang Kalimantan Barat, Siprianus Jewarut, menuturkan upaya pemerintah saat ini menata kembali semua aset negara perlu didukung, karena bukan hal baru bahwa banyak aset negara yang dikuasai oleh pihak-pihak tertentu dan pemerintah sebelumnya seolah-olah menutup mata akan hal tersebut.
Saat ini ada upaya dari pemerintah mengambil setiap aset negara tersebut, namun upaya tersebut diakuinya memang belum maksimal. Upaya mengambil kembali aset negara pada beberapa sektor strategis yang jelas-jelas dikuasai kaum tertentu katanya belum sepenuhnya dilakukan.
"Ini butuh konsistensi dan keberanian lebih dari pemerintah agar tidak terkesan tebang pilih, pada sektor tertentu terlihat pemerintah berani mengambil tindakan sementara pada sektor lain terkesan sengaja mengulur waktu tanpa ada kejelasan proses selanjutnya," tegas Siprianus.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, Manajer Riset Seknas Fitra, Badiul Hadi, mengatakan data yang dirilis The Wealth Report 2022 menunjukkan dalam kurun waktu lima tahun 2021-2026 jumlah orang kaya Indonesia diperkirakan akan meningkat 63 persen menjadi 134.015 orang dari posisi pada 2021 sebanyak 82.012 orang. Kelompok yang dimaksud itu adalah mereka yang masuk dalam kategori High Net Worth Individuals (HNWIs) dengan harta kekayaan lebih dari satu juta dollar AS atau ekuivalen dengan 14,3 miliar rupiah.
Sedangkan jumlah penduduk miskin Indonesia pada September 2022 tercatat 26,36 juta orang atau 9,57 persen. Jika dibanding pada Maret 2022 mengalami kenaikan 0,20 juta jiwa.
Menurut Badiul, ketimpangan itu karena peningkatan kekayaan kelompok tertentu yang melakukan praktik kronisme atau bagian dari kelompok oligarki. Mereka itu yang kemudian memperdalam jurang pemisah dan merusak pranata sosial dan demokrasi dalam hal ini prinsip keadilan sosial yang menjadi cita-cita bangsa Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Jika pemerintah tidak melakukan kontrol dan cenderung membuka lebar kran bagi kroni akan merusak perekonomian nasional karena rusaknya perekonomian masyarakat akibat monopoli para kroni," tandas Badiul.
Selama 25 tahun perjalanan reformasi, ternyata belum mampu memperbaiki kondisi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Pemerintah dalam berbagai kebijakan lebih berpihak pada kroni sehingga terkadang mengabaikan kepentingan rakyat.
"Pemerintah seharusnya kembali ke semangat reformasi dengan menciptakan keadilan dan memberi kesempatan yang sama bagi seluruh rakyat untuk mengelola seluruh sumber daya alam," kata Badiul.
Sebelumnya, Ketua Umum Pergerakan Advokat Indonesia, Heroe Waskito mengatakan haram hukumnya elite politik kembali mendengungkan isu SARA demi memperebutkan kekuasaan. Tidak bisa ditunda lagi, negara ini mesti memasuki demokrasi esensial di mana isu-isu fundamental rakyatlah yang menjadi ajang pertarungan adu gagasan semua calon pemimpin.
"Jadi jangan bicara etnis dan menyalahkan etnis tertentu, tapi tunjuk siapa orangnya yang menjadi penyebab ketimpangan. Pasti tidak punya nyali, pasti tidak berani, karena itu temannya sendiri. Sebagai satu bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang merupakan negara hukum maka hukum harus ditegakkan atas para pelaku kejahatan ekonomi dan ketimpangan. Kenapa perampok BLBI tidak ditangkap, kenapa pembayaran kepada debitur diteruskan sampai saat ini? Di akar masalah inilah hukum ditegakkkan. Jangan melenceng mengambinghitamkan agama dan etnis tertentu," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!