Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pemerintah Pacu Kontribusi Manufaktur ke PDB hingga 30%

📅 Jumat, 19 Mei 2023, 11:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pemerintah Pacu Kontribusi Manufaktur ke PDB hingga 30% Doc: ISTIMEWA
Ket. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Suharso Monoarfa

JAKARTA - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Suharso Monoarfa menginginkan tingkat pertumbuhan industri manufaktur dapat memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) hingga 30 persen. Menurut dia, industri manufaktur bisa menjadi salah satu penunjang pertumbuhan ekonomi Indonesia agar mampu keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah/ Middle Income Trap (MIT).

"Berdasarkan Growth Diagnostics, sebenarnya kita mampu tumbuh di 6,7-7 persen, kita punya potensial pertumbuhan seperti itu, tapi kita tidak bisa ke sana dan akibatnya kita hanya berada di 5 persen," ujarnya dalam acara Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terkait Rakornas Pelaksanaan Anggaran 2023: Belanja Berkualitas Untuk Transformasi Ekonomi Indonesia yang dipantau secara virtual di Jakarta, Rabu (17/5).

Menurut Suharso, jika bisa tumbuh, potensial ekonomi Indonesia adalah 6,7-7 persen, graduasi terhadap MIT diharapkan bisa lebih cepat. Awalnya perhitungan Bappenas kira-kira pada 2036 Indonesia bisa lepas dari MIT, tapi akibat Covid-19 dan sebagainya, akan mundur kemungkinan pada 2038 paling cepat atau 2041.

Sejak 1980-an, industri manufaktur mulai mengalami penurunan hingga di bawah 20 persen. Padahal, salah satu syarat menjadi negara industri adalah ada kontribusi 20 persen dari sektor manufaktur terhadap PDB.

"Nah, kita berharap kita bisa mencapai 30 persen. Jika instrumen industri manufaktur bisa berkontribusi terhadap GDP (Gross Domestic Product atau PDB) sekitar 30 persen, tingkat pertumbuhan dari sektor industri manufaktur harus di atas (tumbuh dengan kecepatan yang lebih tinggi) daripada pertumbuhan makro kita," ucap Kepala Bappenas.

Industri manufaktur yang dikembangkan di Indonesia harus menyesuaikan dengan isu-isu terkini, misalnya, industri manufaktur tidak bisa lagi mengandalkan non renewable resources mengingat saat ini sedang berkembang pembicaraan soal perubahan iklim (climate change) dan keberlanjutan (sustanability).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Nasional
Polri Gelar Upacara Serah T...
Megapolitan
Gubernur DKI Cek Pelayanan ...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.