Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Meningkatnya Frekuensi Bencana dan Risiko Iklim Pengaruhi Ketahanan Sosial dan Ekonomi Nasional

📅 Senin, 09 Feb 2026, 03:10 WIB | Oleh:
Meningkatnya Frekuensi Bencana dan Risiko Iklim Pengaruhi Ketahanan Sosial dan Ekonomi Nasional Doc: istimewa
Ket. Prof. Dr. Bungaran Saragih, Ketua Pembina Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), menyampaikan penutup acara sekaligus merangkum refleksi strategis diskusi dalam Prasasti Insights: Reshaping Indonesia’s Palm Oil Foundations in an Era of Climate Risk and Governance Standards di Mandarin Oriental, Jakarta, kemarin.

JAKARTA - Meningkatnya frekuensi bencana dan risiko iklim di berbagai wilayah Indonesia menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan lagi tantangan jangka panjang, melainkan realitas hari ini yang memengaruhi ketahanan sosial, ekonomi, dan sektor-sektor strategis nasional.

Dalam konteks tersebut penguatan fondasi industri kelapa sawit perlu dilihat sebagai upaya memperkuat salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia. Isu tersebut menjadi fokus utama dalam forum Prasasti Insights bertajuk “Reshaping Indonesia’s Palm Oil Foundations in an Era of Climate Risk and New Governance Standards” yang diselenggarakan oleh Prasasti Center for Policy Studies di Jakarta, kemarin.

Fuad Bawazier, Board of Trustees Prasasti, menekankan bahwa peristiwa bencana di sejumlah wilayah Indonesia beberapa waktu terakhir seharusnya menjadi pijakan bersama dalam merumuskan kebijakan lintas sektor. “Ketahanan ekonomi di era perubahan iklim menuntut pendekatan tata kelola yang lebih adaptif dan berkelanjutan, termasuk dalam sektor energi dan pangan,” ujarnya.

Fuad menegaskan bahwa dalam kerangka ketahanan nasional tersebut, industri kelapa sawit memiliki posisi sangat strategis. Indonesia saat ini merupakan produsen minyak sawit mentah (CPO) terbesar di dunia dengan pangsa sekitar 58 persen produksi global.

Sektor ini menopang sekitar 2,6 juta petani sawit dan menyediakan hingga 16,5 juta lapangan kerja langsung maupun tidak langsung yang tersebar di lebih dari 300 kabupaten dan 25 provinsi.

Dari sisi ekonomi, industri sawit menciptakan nilai output lebih dari 1.100 triliun rupiah per tahun dengan nilai tambah sekitar 510 triliun rupiah per tahun, sekaligus berperan penting dalam menjaga surplus neraca perdagangan nasional melalui ekspor dan biodiesel.

“Angka-angka ini menunjukkan bahwa sawit bukan sekadar komoditas, tetapiaset strategis nasional yang menopang ekonomi daerah, penghidupan jutaan keluarga, serta ketahanan pangan dan energi Indonesia,” ujar Fuad.

Namun demikian, ia juga menggarisbawahi bahwa besarnya kontribusi tersebut belum sepenuhnya diimbangi kekuatan struktural dan tata kelola yang kokoh untuk menjawab berbagai tantangan.

Menanggapi hal tersebut, Piter Abdullah, Policy and Program Director Prasasti, menambahkan bahwa salah satu hambatan utama bukan semata terletak pada desain kebijakan, melainkan pada aspek tata kelola.

“Fragmentasi kelembagaan, proses birokrasi yang panjang, dinamikaregulasi yang tinggi, serta lemahnya monitoring implementasi kerap menghambat efektivitas kebijakan dan pada akhirnya memengaruhi kepercayaan pelaku usaha,” ujarnya.

Oleh karena itu, penguatan industri kelapa sawit ke depan perlu dibangun di atas fondasi analisis yang kuat, dialog kebijakan yang terbuka, serta kolaborasi lintas pemangku kepentingan.

Sementara itu, Gundy Cahyadi, Research Director Prasasti, memaparkan hasil kajian yang menunjukkan bahwa kinerja industri kelapa sawit Indonesia saat ini masih belum memadai untuk menjawab target angka panjang, “Termasuk menuju Visi Indonesia Emas 2045. Pertumbuhan produksi yang relatif underperforming berisiko menciptakan kesenjangan output di masa depan apabila tidak diantisipasi sejak dini.”

Menurutnya, tantangan utama industri kelapa sawit Indonesia terletak pada belum terbangunnya visi dan arah kebijakan yang terintegrasi di sepanjang rantai nilai. “Tanpa keselarasan dari hulu ke hilir, upaya peningkatan produktivitas, hilirisasi, dan penciptaan nilai tambah berisiko berjalan parsial dan tidak berkelanjutan,” ujarnya. ion/S-2

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Luar Negeri
Yunani Diguncang Demo Besar...
Luar Negeri
Sultan Oman dan PM Inggris ...
Luar Negeri
Ribuan Warga RD Kongo Melar...
Luar Negeri
Kanada Perkuat Industri Str...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Jangan Lupa Catat Tanggalnya! CFD Sudirman-Thamrin Ditiadakan, Jaksel Adakan di Jalan Iskandar Muda

Jangan Lupa Catat Tanggalnya! CFD Sudirman-Thamrin Ditiadakan, Jaksel Adakan di Jalan Iskandar Muda

22 Oct 2026
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.