G-7 Khawatir atas Ancaman Ketidakpastian Ekonomi yang Lebih Besar
📅 Senin, 15 Mei 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ISTIMEWA
» Jepang memelopori upaya membantu negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
» Pandemi mengajarkan kalau rantai pasokan bergantung pada sejumlah negara atau satu negara.
NIIGATA - Para kepala keuangan dari kelompok tujuh negara industri maju (G7) seusai menggelar pertemuan selama tiga hari di Jepang memperingatkan ancaman ketidakpastian ekonomi global yang lebih besar.
Seperti dikutip dari The Straits Times, dalam komunike para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G-7, akhir pekan lalu, mereka menyebut invasi Russia yang terus berlanjut ke Ukraina dan melonjaknya inflasi di seluruh dunia sebagai faktor yang membahaykan prospek ekonomi global.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kita harus tetap waspada dan tetap gesit dan fleksibel dalam kebijakan ekonomi makro kita di tengah meningkatnya ketidakpastian tentang prospek ekonomi global," kata mereka.
Meskipun itu tidak tercantum dalam pernyataan setebal 14 halaman yang dikeluarkan pada penutupan pertemuan, ancaman gagal bayar oleh Amerika Serikat (AS) jika Washington gagal menaikkan plafon utangnya pada 1 Juni, juga dibahas selama pertemuan.
Menteri Keuangan Jerman, Christian Lindner, telah mendesak politisi Amerika untuk membuat keputusan yang lebih dewasa, sebab dengan default pasti akan mendatangkan malapetaka pada ekonomi global.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tiongkok juga tidak dikutip dalam komunike tersebut, konon karena "paksaan ekonomi" terhadap negara-negara yang tidak setuju dengannya.
Jepang sendiri memelopori upaya untuk membantu negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah di kesenjangan Utara-Selatan (Global South, salah satu jenis kesenjangan sosial-ekonomi dan politik) untuk mendiversifikasi rantai pasokan mereka atas nama keamanan energi, serta untuk mengatasi kerentanan utang mereka.
Seorang pejabat Kementerian Keuangan Jepang mengatakan bahwa tindakan tersebut tidak ditujukan untuk negara tertentu. Namun demikian, Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan mengatakan dalam sebuah laporan bahwa Tiongkok telah melampaui negara-negara G-7 dalam kemampuannya memproduksi produk penting yang diperlukan untuk mengatasi perubahan iklim, termasuk turbin angin, panel surya, dan baterai.
Pernyataan itu mengatakan para kepala keuangan mengakui "kebutuhan mendesak untuk mengatasi kerentanan yang ada dalam rantai pasokan produk-produk penting untuk energi bersih yang sangat terkonsentrasi".
"Diversifikasi rantai pasokan dapat berkontribusi untuk menjaga keamanan energi dan membantu kami menjaga stabilitas ekonomi makro," sebut pernyataan G7.
Apa yang disebut Kemitraan untuk Bangkit (Peningkatan Rantai Pasokan yang Tangguh dan Inklusif atau Partnership for Rise), sedang dikembangkan dengan negara-negara yang tertarik bekerja sama dengan Bank Dunia yang ditargetkan akan diluncurkan pada akhir 2023.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!