Vaksin Malaria adalah Lompatan Besar tapi Inovasi Tak Boleh Berhenti
📅 Selasa, 02 Mei 2023, 13:32 WIB | Oleh: Tim PenulisHal ini membuat program vaksinasi yang efektif menjadi sangat menantang. Salah satu solusi yang mungkin adalah program vaksinasi berbasis masyarakat untuk meningkatkan akses dan meningkatkan kepatuhan.
Selain itu, meski mencegah penyakit parah, vaksin itu tidak serta merta mencegah infeksi. Ini mirip dengan vaksin COVID-19.
Ketiga, vaksin ini hanya efektif untuk satu (Plasmodium falciparum) dari lima parasit malaria manusia.
Ada kekhawatiran lain juga. Salah satunya adalah meningkatnya keraguan vaksin di seluruh Afrika.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kemungkinan juga akan ada tantangan dalam memenuhi permintaan vaksin, mengingat fokus saat ini untuk memproduksi vaksin COVID-19.
Tantangan-tantangan ini membuat vaksin RTS,S tidak dapat menggantikan intervensi efektif yang telah ada. Contohnya penyemprotan residu dalam ruangan dan penggunaan kelambu berinsektisida.
Sebagai gantinya, vaksin harus dilaksanakan bersamaan untuk memutus siklus penularan malaria.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karena vaksin RTS,S hanya efektif pada anak kecil, vaksin ini hanya akan digunakan jika mereka memiliki risiko infeksi yang lebih tinggi daripada anak yang lebih besar. Kondisi seperti itu umumnya ditemukan di daerah penularan sedang hingga tinggi. Di daerah ini, infeksi malaria yang sering menyebabkan anak yang lebih tua mengembangkan kekebalan parsial.
Kekebalan ini mencegah anak menunjukkan tanda dan gejala malaria. Mereka menjadi pembawa malaria tanpa gejala. Banyak negara Afrika endemik malaria, termasuk Botswana, Eswatini, Namibia, dan Afrika Selatan, memiliki intensitas penularan yang sangat rendah, sehingga populasinya tidak mengembangkan kekebalan terhadap malaria.
Pemuatan vaksin RTS,S dalam program imunisasi anak di negara dengan penyebaran malaria rendah ini tidak akan efektif secara biaya.
Terlepas dari tantangan yang terkait dengan vaksin RTS,S, penambahannya ke rangkaian intervensi pengendalian malaria merupakan lompatan maju dalam perang global melawan malaria.
Namun inovasi vaksin tidak boleh berhenti sampai di sini. Upaya harus dilakukan untuk mengembangkan vaksin yang efektif pada anak yang lebih besar dan orang dewasa, yang hanya membutuhkan satu dosis dan efektif melawan semua malaria pada manusia.![]()
Jaishree Raman, Principal Medical Scientist and Head of Laboratory for Antimalarial Resistance Monitoring and Malaria Operational Research, National Institute for Communicable Diseases dan Shüné Oliver, Medical scientist, National Institute for Communicable Diseases
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!