Perdebatan Teori Pusat Alam Semesta pada Abad Pertengahan
📅 Selasa, 25 Apr 2023, 06:15 WIB | Oleh: Haryo BronoSelain itu, teori Copernicus menyangkal apa yang dianggap sebagai "fakta" ketika itu bahwa Matahari terbit di timur dan bergerak melintasi angkasa untuk terbenam di barat, sedangkan Bumi tetap tidak bergerak.
Sebenarnya Copernicus bukanlah orang yang pertama yang menyimpulkan bahwa Bumi berputar mengitari Matahari. Astronom Yunani Aristarkhus dari Samos telah mengemukakan teori ini pada abad ketiga sebelum Masehi. Para pengikut Pythagoras telah mengajarkan bahwa Bumi serta Matahari bergerak mengitari suatu api pusat.
Akan tetapi, Ptolemeus menulis bahwa jika Bumi bergerak, binatang dan benda lainnya akan bergelantungan di udara, dan Bumi akan jatuh dari langit dengan sangat cepat. Ia menambahkan, sekadar memikirkan hal-hal itu saja terlihat konyol.
Ptolemeus mendukung gagasan Aristoteles bahwa Bumi tidak bergerak di pusat alam semesta dan dikelilingi oleh serangkaian bola bening yang saling bertumpukan, dan bola-bola itu tertancap Matahari, planet-planet, dan bintang-bintang. Ia menganggap bahwa pergerakan bola-bola bening inilah yang menggerakan planet dan bintang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, kelemahan teori Ptolemeus itulah yang mendorong Copernicus untuk mencari penjelasan alternatif atas pergerakan yang aneh dari planet-planet. Untuk menopang teorinya, Copernicus merekonstruksi peralatan yang digunakan oleh para astronom zaman dahulu.
Walaupun sederhana dibandingkan dengan standar modern, peralatan ini memungkinkan dia menghitung jarak relatif antara planet-planet dan Matahari. Selama bertahun-tahun, ia berupaya menentukan secara persis tanggal-tanggal manakala para pendahulunya telah membuat beberapa pengamatan penting di bidang astronomi.
Diperlengkapi dengan data dari alat sederhana, Copernicus mulai mengerjakan dokumen kontroversial yang menyatakan bahwa Bumi dan manusia di dalamnya bukanlah pusat alam semesta. Pandangan Copernicus telah dikenal di kalangan terpelajar meski bukunya belum diterbitkan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Reformator besar Martin Luther mengkritiknya, karena Bumi yang bergerak dan matahari yang tidak bergerak akan bertentangan dengan bagian-bagian tertentu dalam Alkitab.
Teolog Lutheran Andreas Osiander, yang telah mengoreksi bukti-bukti De Revolutionibus, menyediakan buku itu dengan kata pengantar di tangannya sendiri. Di dalamnya ia menekankan bahwa teori heliosentris belum tentu benar, tetapi berguna sebagai konstruksi matematis untuk menghitung posisi planet.
Copernicus tentu tidak setuju dengan pandangan mereka, hal ini ini terlihat dari isi De Revolutionibus. Namun dia sudah sakit parah saat itu dan meninggal tak lama setelah bukunya diterbitkan. Namun apa yang dikemukakan Copernicus membuat pada ilmuwan ilmuwan Eropa berani mempertanyakan pengetahuan kuno dari geosentris.
Dalam dekade-dekade berikutnya, orang semakin jarang menganggap kebenaran absolut dari tulisan-tulisan kuno dan semakin banyak orang mulai melakukan lebih banyak penelitian sendiri, dengan mengamati, mengukur, dan bereksperimen. Ini juga dikenal sebagai empirisme, aliran filsafat yang mengatakan bahwa indera manusia adalah sumber pengetahuan. hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!