Energi Surya dan Angin Sumbang 12 Persen Listrik Dunia pada 2022

Jumat, 14 Apr 2023, 00:00 WIB

PARIS - Lembaga pemikir iklim dan energi Ember, pada Rabu (12/4), melaporkan penggunaan energi matahari dan angin melonjak mencapai rekor 12 persen dari listrik dunia pada tahun 2022, meskipun batu bara tetap menjadi sumber utama secara global.

Dilansir oleh The Straits Times, laporan tersebut memberikan ukuran terbaru pertumbuhan energi terbarukan saat negara-negara berebut untuk memenuhi target emisi guna mengekang perubahan iklim dan mengamankan sumber daya alternatif setelah invasi pengekspor gas Russia ke Ukraina pada Februari 2022.

Ket. Foto: Lembaga pemikir iklim dan energi memperkirakan sumber-sumber energi terbarukan menyumbang 39 persen dari listrik dunia. — Sumber: ISTIMEWA

"Rekor pertumbuhan angin dan matahari mendorong intensitas emisi listrik dunia ke level terendah yang pernah ada pada tahun 2022," kata think-tank itu dalam Tinjauan Listrik Global tahunannya.

Membantu memperlambat peningkatan emisi yang memanaskan bumi, daya dari turbin angin dan panel surya naik hingga 12 persen dari 10 persen pada 2021 dan 5 persen pada 2015.

Kelompok itu memperkirakan sumber energi terbarukan, termasuk tenaga nuklir, menyumbang 39 persen dari listrik dunia. Sisanya berasal dari bahan bakar fosil yang menyebabkan emisi karbon yang menghangatkan planet yaitu minyak, gas, dan batu bara, yang merupakan sumber terbesar sebesar 36 persen.

Terus Meningkat

Menurut Ember, dengan permintaan listrik yang terus meningkat, pembangkit batu bara tumbuh 1,1 persen, lebih lambat dari yang diperkirakan.

Para ilmuwan dan Badan Energi Internasional mengatakan penggunaan bahan bakar fosil ini harus dikurangi secara tajam untuk mencapai target kritis membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celsius.

Negara-negara di KTT iklim 26th Climate Change Conference of the Parties (COP26) Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2021 setuju untuk "mengurangi" batu bara, bahan bakar fosil yang paling berpolusi, tetapi kemajuannya terbatas dan pabrik batu bara baru direncanakan, terutama di India dan Tiongkok.

"Kami memperkirakan tahun 2023 akan terjadi penurunan kecil dalam generasi fosil dengan penurunan yang lebih besar di tahun-tahun berikutnya seiring pertumbuhan angin dan matahari," kata Ember.

"Itu berarti tahun 2022 mencapai emisi 'puncak'. Era baru penurunan emisi sektor tenaga listrik sudah dekat," ungkapnya.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.